Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Januari 2025, 18.50 WIB

Hubungan Usus dan Otak: Bagaimana Bakteri Usus Memengaruhi Keinginan terhadap Gula

Ilustrasi mejnaga kesehatan usus. (Istimewa) - Image

Ilustrasi mejnaga kesehatan usus. (Istimewa)

JawaPos.com - Tubuh manusia merupakan ekosistem kompleks yang dihuni triliunan mikroorganisme, terutama di dalam usus. Komunitas mikroba ini, yang dikenal sebagai mikrobiota usus, memainkan peran penting dalam berbagai aspek kesehatan fisik dan mental, termasuk memengaruhi keinginan kita terhadap makanan, khususnya gula.
 
Penelitian terbaru mengungkap bahwa keinginan kuat untuk mengonsumsi gula tidak semata-mata didorong oleh faktor psikologis seperti kebiasaan atau emosi, tetapi juga dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara otak dan mikrobiota usus. Bakteri dalam usus dapat menghasilkan zat kimia yang memengaruhi sinyal di otak, yang pada akhirnya memengaruhi preferensi makanan kita.
 
Satu di antara studi menarik yang dikutip dari Psychology Today Rabu (15/1), menyoroti bagaimana bakteri usus tertentu dapat melepaskan zat yang bekerja mirip dengan obat diabetes baru, seperti Ozempic. Obat-obatan ini menurunkan kadar gula darah, dan zat yang dihasilkan bakteri usus tampaknya memiliki efek serupa, yang pada gilirannya dapat memicu keinginan untuk mengonsumsi gula.
 
Fenomena ini menjelaskan mengapa beberapa orang merasa sulit mengendalikan keinginan mereka terhadap makanan manis. Komposisi mikrobiota usus yang tidak seimbang, yang dikenal sebagai disbiosis, dapat menyebabkan peningkatan produksi zat-zat pemicu keinginan gula ini.
 
Dampak dari interaksi antara usus dan otak ini tidak hanya terbatas pada preferensi makanan. Penelitian juga menunjukkan bahwa mikrobiota usus yang tidak sehat dapat berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan mental, termasuk kecemasan dan depresi.
 
Kondisi ini terjadi karena usus dan otak terhubung melalui sumbu usus-otak, jaringan komunikasi dua arah yang memungkinkan keduanya untuk saling memengaruhi. Mikroba usus dapat memengaruhi produksi neurotransmiter, zat kimia di otak yang berperan penting dalam mengatur suasana hati dan perilaku.
 
Sebagai contoh, beberapa bakteri usus dapat menghasilkan serotonin, neurotransmiter yang terkait dengan perasaan bahagia dan sejahtera. Ketidakseimbangan mikrobiota usus dapat mengganggu produksi serotonin, yang berpotensi memengaruhi suasana hati dan meningkatkan risiko gangguan mental.
 
Lebih lanjut, peradangan kronis di usus, yang sering dikaitkan dengan disbiosis, juga dapat memicu peradangan di otak, yang dapat memperburuk gejala masalah kesehatan mental. Oleh karena itu, menjaga kesehatan mikrobiota usus sangat penting untuk kesehatan mental dan fisik secara keseluruhan.
 
Memahami hubungan kompleks antara keinginan gula, mikrobiota usus, dan kesehatan mental membuka jalan bagi strategi baru untuk mengatasi masalah ini. Satu di antara pendekatan yang menjanjikan adalah dengan memodifikasi diet untuk mendukung pertumbuhan bakteri usus yang sehat.
 
Konsumsi makanan kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran, dan biji-bijian, dapat membantu memberi makan bakteri baik di usus. Probiotik, yang mengandung bakteri hidup yang bermanfaat, juga dapat membantu memulihkan keseimbangan mikrobiota usus.
 
Selain diet, faktor gaya hidup lain seperti olahraga teratur dan manajemen stres juga dapat berkontribusi pada kesehatan usus. Olahraga telah terbukti meningkatkan keanekaragaman mikrobiota usus, sementara stres kronis dapat berdampak negatif pada komposisinya.
 
Dengan demikian, menjaga kesehatan mikrobiota usus melalui diet sehat, gaya hidup aktif, dan manajemen stres yang efektif dapat menjadi strategi penting untuk mengendalikan keinginan gula dan meningkatkan kesehatan mental secara keseluruhan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk sepenuhnya memahami mekanisme kompleks ini dan mengembangkan intervensi yang lebih efektif.
 
Interaksi antara usus dan otak merupakan bidang penelitian yang berkembang pesat, dan penemuan-penemuan baru terus bermunculan. Memahami hubungan ini dapat membuka pintu bagi pendekatan baru dalam pencegahan dan pengobatan berbagai masalah kesehatan, baik fisik maupun mental.
 
Memperhatikan kesehatan usus bukan hanya tentang pencernaan yang lancar, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan mental dan mengendalikan keinginan yang mungkin selama ini kita anggap hanya berasal dari pikiran. Ilmu pengetahuan terus membuktikan betapa kompleks dan terhubungnya sistem dalam tubuh manusia.
 
Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore