Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Maret 2026, 17.00 WIB

Perang AS-Israel lawan Iran, Negara Teluk Ancam Cabut Investasi Global

Selat Hormuz adalah salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia, yang ditutup buntut perang antara AS-Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz diperkirakan bakal mengerek harga minyak dunia. (Google Maps) - Image

Selat Hormuz adalah salah satu jalur perdagangan minyak utama dunia, yang ditutup buntut perang antara AS-Israel melawan Iran. Penutupan Selat Hormuz diperkirakan bakal mengerek harga minyak dunia. (Google Maps)

 

 

 

JawaPos.com-Ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah serangan militer Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran mulai berdampak ekonomi luas. Sejumlah negara Teluk mulai meninjau kembali komitmen investasi luar negeri sebagai langkah antisipasi terhadap potensi tekanan anggaran negara.

Laporan media bisnis internasional Financial Times pada Kamis (5/3) menyebut beberapa pemerintah kawasan Teluk sedang evaluasi internal berbagai komitmen investasi global. Langkah ini diambil khawatir konflik antara Iran, AS, Israel bisa berkembang jadi krisis regional panjang dan mahal.

Seorang pejabat negara Teluk mengatakan, eskalasi konflik bisa memengaruhi aktivitas ekonomi, mulai janji investasi negara lain, sponsor olahraga internasional, hingga kontrak bisnis dan kepemilikan aset.

’’Konflik yang melanda kawasan ini dapat berdampak pada berbagai hal, dari komitmen investasi kepada negara atau perusahaan asing, sponsor olahraga, kontrak bisnis dengan investor, hingga kemungkinan penjualan aset,” ujar pejabat tersebut.

Meski demikian, kantor berita Reuters menyebut laporan itu belum bisa diverifikasi secara independen. Financial Times tidak ungkap identitas maupun jabatan pejabat yang beri pernyataan tersebut.

Selama beberapa dekade terakhir, pertumbuhan cepat negara-negara Teluk bergantung pada dua faktor utama: stabilitas kawasan yang membuat kota-kota modern jadi tempat aman bisnis global, dan arus pendapatan besar dari ekspor energi yang relatif tidak terganggu. Namun perkembangan terbaru mengguncang kedua fondasi tersebut sekaligus.

Menurut pejabat sama, sejumlah negara Teluk kini memeriksa kemungkinan menggunakan klausul force majeure dalam kontrak berjalan. Klausul ini biasanya memungkinkan suatu pihak tunda atau batalkan kewajiban kontrak jika terjadi kondisi luar biasa seperti perang atau bencana besar.

’’Beberapa negara Teluk telah memulai peninjauan internal untuk tentukan apakah klausul force majeure dapat diterapkan pada kontrak yang ada, sekaligus evaluasi komitmen investasi saat ini dan masa depan guna kurangi tekanan ekonomi yang diperkirakan muncul akibat perang,” kata pejabat tersebut kepada Financial Times.

Jika konflik berlanjut dengan intensitas sama, langkah peninjauan ini bisa berdampak pada arus investasi global yang selama ini banyak didorong oleh dana kekayaan negara-negara Teluk. (*)

 

 

Editor: Dinarsa Kurniawan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore