Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Oktober 2023, 03.30 WIB

Mengenal Pasukan Hamas dan Kisah yang Melatarbelakangi Konflik Palestina-Israel

Pasukan Militan Hamas (Foto : The Arab Weekly). - Image

Pasukan Militan Hamas (Foto : The Arab Weekly).

JawaPos.com - Kelompok militan Hamas dilaporkan melakukan serangan terhadap Israel dengan menembakkan ribuan roket, Sabtu (7/10).
 
Berkat serangan tersebut, diketahui ribuan orang tewas dan aksi saling serang antara pasukan militer Israel dengan pasukan Hamas sampai saat ini masih terjadi di Gaza.
 
Lantas siapakah 'Hamas' ?
 
Hamas merupakan sebuah organisasi gerakan Islam dan nasionalis Palestina yang mengelola jalur Gaza dan menentang kependudukan Zionis (Yahudi) di wilayah tersebut.
 
Nama Hamas sebenarnya merupakan akronim dari Harakat al-Muqawwamatul Islamiyyah yang berarti Gerakan Perlawanan Islam.
 
Kata 'Hamas' dalam bahasa Arab juga memiliki arti Pengabdian dan Semangat di Jalan Allah.
 
Organisasi ini dibentuk pada 14 Desember 1987 oleh Sheikh Ahmed Yassin dengan tujuan untuk membebaskan Palestina dari pendudukan Israel dan mendirikan negara Islam di wilayah yang saat ini menjadi wilayah Israel, Tepi Barat dan Jalur Gaza. 
 
 
Hamas telah memerintah Jalur Gaza sejak 2007, tepatnya setelah memenangkan mayoritas kursi di parlemen Palestina pada pemilihan parlemen Palestina 2006 dan mengalahkan organisasi politik 'Fatah' dalam serangkaian bentrokan.
 
Hamas ditetapkan sebagai teroris oleh Israel dan sebagian besar negara-negara Barat seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada dan seluruh Uni Eropa. 
 
Namun, pihak lain justru melihat Hamas sebagai pemerintahan yang sah di wilayah tersebut. Termasuk Iran, yang merupakan salah satu pendukung utama kelompok tersebut dan kelompok Islam Syiah Hizbullah di Lebanon.
 
Sejarah Awal Terjadinya Konflik
 
Israel memiliki sejarah panjang dalam pertempuran dengan pasukan Hamas. Mereka telah berperang di Gaza sebanyak empat kali dan melakukan sejumlah operasi lainnya.
 
Dilansir dari Sky News, Hamas, sama seperti kebanyakan kelompok di Timur Tengah lainnya yang masih membenci terbentuknya Israel setelah Perang Dunia Kedua, dimana hal tersebut didukung oleh sebagian besar  negara-negara Barat.
 
Hamas dan kelompok Palestina lainnya percaya bahwa wilayah tersebut telah dicuri dari pemilik asli yang sah, yakni rakyat Palestina. 
 
 
Namun menurut Israel dan para pendukungnya, wilayah tersebut adalah tanah air leluhur orang-orang Yahudi yang diasingkan setelah invasi Kekaisaran Babilonia lebih dari 2.500 tahun yang lalu dan pendudukan wilayah tersebut oleh bangsa Romawi.
 
Beberapa puluh tahun setelah berdirinya Israel, kedua negara ini berperang beberapa kali dan akhirnya menduduki Tepi Barat dan Gaza dimana wilayah tersebut pada 1947 tidak ditetapkan oleh PBB sebagai wilayah yang masuk dalam pemerintahan Israel. 
 
Meskipun Israel menarik diri dari Gaza pada 2005, Israel dilaporkan masih menduduki Tepi Barat (dinamakan demikian karena posisinya di sebelah barat Sungai Jordan). 
 
Israel telah mendirikan banyak pemukiman Yahudi di seluruh wilayah tersebut, yang sebelumnya sempat dikritik oleh Dewan Keamanan PBB sebagai “pelanggaran mencolok terhadap hukum internasional”.
 
Apa yang Diinginkan Hamas?
 

Setelah pendiriannya, sebuah piagam bernama 'Piagam Hamas' dibuat dimana isinya menyatakan bahwa Palestina dianugerahkan oleh Tuhan untuk umat Islam dan mewajibkan seluruh umat Islam untuk melakukan jihad (perang suci) melawan musuh yang “merebut” sebagian tanah Islam. Singkatnya, Hamas ingin mengakhiri Israel dan mengembalikan Palestina sebagai negara Islam.

Awalnya, Hamas dengan tegas menolak solusi dua negara yang melibatkan Israel dan rakyat Palestina hidup berdampingan dengan saling pengakuan. 

Namun, pada 2017, dilaporkan bahwa piagam tersebut telah disusun ulang dan Hamas menerima bahwa negara Palestina akan berada dalam batas-batas yang ada sebelum Perang Enam Hari Israel pada 1967.

Hamas juga tampaknya menghapus unsur-unsur yang dikritik sebagai antisemit (sikap permusuhan atau prasangka pada Yahudi). 

Namun para penentangnya mengklaim bahwa perubahan tersebut hanya merupakan langkah sinis agar terlihat lebih dapat diterima oleh komunitas internasional.

Menanggapi konflik antara Palestina-Israel, Pemerintah Indonesia sendiri melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menyatakan desakan agar kekerasan yang menimbulkan korban jiwa ini segera  diakhiri. Selain itu, Pemerintah Indonesia juga menyampaikan rasa prihatin atas peristiwa kekerasan yang melibatkan dua negara tersebut. 
 
"Indonesia sangat prihatin dengan meningkatnya eskalasi konflik antara Palestina-Israel," tulis pernyataan Kementerian Luar Negeri RI di akun X, yang dikutip dari JawaPos.com Senin (9/10).
 
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore