Pengungsi Palestina membawa air dari mobil tangki
JawaPos.com – Krisis air bersih di Palestina terus berlanjut sejak 90 persen sumber air bersih Palestina hilang, karena agresi militer Israel yang sangat gencar di Gaza dan sekitarnya.
Warga Palestina dari Kamp Pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara mengantri di dekat truk tangki air, membawa wadah plastik di tangan mereka. MEMO melaporkan dari Agensi Anadolu.
Bagi banyak dari warga Palestina, penantian itu sia-sia. Kapal tanker air tersebut memiliki kapasitas terbatas dan tidak dapat menyediakan air bagi ratusan warga Palestina yang menghabiskan waktu berjam-jam menunggu setiap hari.
Jalur Gaza menderita krisis air yang parah akibat rusaknya infrastruktur akibat perang yang sedang berlangsung. Situasi ini sangat mengerikan di wilayah utara wilayah kantong pantai Palestina yang terkepung tersebut.
Setelah serangan Hamas (7/10/23), Israel telah memutus pasokan air, makanan, obat-obatan, listrik dan bahan bakar untuk 2,3 juta warga Palestina di Gaza.
Fasilitas desalinasi dan jaringan pembuangan limbah di Gaza telah terganggu karena kekurangan bahan bakar dan listrik sejak pertengahan Oktober tahun lalu, menurut Otoritas Air Palestina.
PBB telah berulang kali memperingatkan resiko penyebaran penyakit akibat krisis air, ditambah dengan kurangnya perlengkapan kebersihan. Christian Lindmeier, juru bicara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan kepada Anadolu, “orang-orang di Gaza hidup dalam bencana, mereka rentan terhadap kematian karena kelaparan, kekurangan gizi, kehausan, atau karena peluru, cedera, dan bangunan runtuh di atas kepala mereka.”.
Di area lain di Kamp Pengungsi, warga Palestina berkerumun di sekitar salah satu saluran air yang dihancurkan oleh tentara Israel, mencoba mengisi saluran air langsung dari sana.
Karam Abu Nada, seorang warga Palestina berusia 30-an yang sedang menunggu giliran untuk mengisi air dari pipa yang rusak. Abu Nada berkata bahwa para penghuni kamp “berkumpul untuk mengambil air meskipun air tersebut terkontaminasi”.
Dia mengatakan kepada Anadolu bahwa mereka biasanya menggunakan air yang tercemar untuk mencuci, membersihkan, dan memasak. Kadang-kadang, mereka menunggu hingga 10 hari untuk mendapatkan air ini, ujar Abu Nada.
Warga Gaza terpaksa menjatah konsumsi air karena hanya tersedia beberapa hari sekali. Mereka meminimalkan jumlah yang digunakan untuk mandi, mencuci piring, dan membersihkan.
Abu Nada mengatakan air yang tercemar berdampak pada mereka, terutama anak-anak, menyebabkan penyakit usus dan kulit di tengah kurangnya obat-obatan untuk mengobati mereka.
Raed Radwan, warga Palestina berusia 50 tahun dari Kota Gaza, mengatakan keluarganya terus-menerus menghadapi krisis air.
“Kami memperoleh air dengan mengisi beberapa galon plastik dari salah satu klub di wilayah tempat kami tinggal, yang memompa air dari sumur pribadi setiap 3-4 hari sekali karena kekurangan bahan bakar,” ujar Radwan.

Pemerintah Perkuat Pengawasan Tata Niaga Minyak Goreng, Mafia Pangan Bakal Disikat Habis
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
Prediksi Skor PSG vs Arsenal di Final Liga Champions 2025/2026! Les Parisiens Unggul Tipis
11 Barang yang Secara Psikologi Jadi Pemborosan Orang Miskin tapi Tak Pernah Dibeli Orang Kaya
Prediksi Line Up PSG Menghadapi Arsenal di Final Liga Champions
Suasana di Dalam Tenda Glamping Tempat Satu Keluarga Tewas di Temanggung
Harga Pasaran 4 Pemain Lokal Ini Bikin Kaget! Meroket usai Bawa Persebaya Surabaya Finis Papan Atas
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Ramadhan Sananta, Mesin Gol Baru Era Bernardo Tavares
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Cek Warna Keberuntungan Menurut Hari dan Pasaran Jawa: Rahasia Menarik Energi Positif dan Kesuksesan Setiap Hari!
