
Ilustrasi Louis Braille, pencetus sistem braille untuk tunanetra (wp.en.aleteia.org)
JawaPos.com–Sebelum ada braille, dunia bagi tunanetra adalah dunia yang penuh tantangan, terutama dalam mengakses informasi dan pendidikan. Namun, Louis Braille mengubah segalanya. Lahir pada 4 Januari, dia menciptakan sistem revolusioner yang memberdayakan jutaan orang di seluruh dunia. Kisahnya adalah kisah tentang harapan, inovasi, dan inklusivitas.
Kisah Tragis Louis Braille
Melansir Britannica, Louis Braille lahir di Coupvray, Prancis, pada 4 Januari 1809. Pada usia tiga tahun, Louis Braille bermain di bengkel ayahnya, seorang pembuat peralatan kulit.
Tragis, alat tusuk yang digunakan ayahnya secara tak sengaja melukai matanya, menyebabkan infeksi dan akhirnya kebutaan total. Tragedi ini mengubah jalan hidupnya, tetapi mengantarkannya kepada jalan baru untuk mengubah dunia.
Mendapatkan Inspirasi dari Alat Komunikasi Tentara
Pada usia 10 tahun, Louis Braille mendapat beasiswa untuk belajar di Institut des Jeunes Aveugles (Institut Nasional untuk Tunanetra Anak) di Paris. Di sanalah dia terpapar dengan berbagai metode pembelajaran bagi tunanetra yang masih terbatas waktu itu.
Pada 1821, Charles Barbier de la Serre, seorang perwira artileri Prancis, mengunjungi sekolah tersebut dan memperkenalkan night writing, sebuah sistem kode taktik yang dirancang untuk tentara berkomunikasi di malam hari tanpa suara.
Sistem tersebut menggunakan 12 titik timbul yang direpresentasikan dalam dua kolom enam titik. Meskipun inovatif, sistem ini kompleks dan sulit diraba dengan cepat dan efisien oleh ujung jari.
Mendapatkan kesempatan untuk mempelajari night writing, Louis Braille menyadari sesuatu. Dia menilai bahwa 12 titik terlalu banyak untuk diraba dengan satu sentuhan jari.
Pada 1824, di usia 15 tahun, Louis Braille berhasil menyederhanakan sistem tersebut menjadi 6 titik yang tersusun dalam dua baris tiga titik. Sistem 6 titik ini jauh lebih mudah dan cepat untuk diraba, memungkinkan pembaca untuk merasakan seluruh karakter dengan satu sentuhan jari. Inilah sistem braille yang dikenal dan digunakan hingga saat ini.
Braille dan Jembatan Menuju Kesetaraan
Sistem braille bukan sekadar kumpulan titik. Sistem ini menjadi jembatan penghubung tunanetra dengan dunia literasi, informasi, pengetahuan dan kemandirian. Dikutip dari Braille Works, sistem braille membuat orang tunanetra mempelajari kata-kata yang tertulis. Tunanetra bisa secara sadar membedakan ejaan, tanda baca, pembuatan paragraf, dan catatan kaki.
Keberadaan sistem ini membuat tunanetra mengakses berbagai materi, seperti buku pelajaran, kitab suci, hingga menu restoran dan laporan keuangan. Maka dari itu, setiap 4 Januari, dunia memperingati Hari Braille Sedunia. Ini bertepatan dengan hari kelahiran Louis Braille.
Peringatan yang dicanangkan PBB sejak 2019 untuk meningkatkan kesadaran pentingnya braille sebagai alat komunikasi dan pemenuhan hak asasi manusia bagi tunanetra. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terkait aksesibilitas.
Akses terhadap materi braille yang terjangkau, ketersediaan guru braille yang terlatih, dan integrasi braille dengan teknologi digital masih menjadi tantangan. Louis Braille mungkin telah tiada, tetapi warisannya terus hidup dan memberikan dampak yang luar biasa bagi jutaan orang di seluruh dunia. Braille bukan sekadar tulisan, tetapi juga simbol kemandirian, kesetaraan, dan harapan.
