
IQBAL AJI DARYONO. (Dok. Pribadi)
Oleh IQBAL AJI DARYONO
APAKAH benar di era digital semua informasi bisa kita dapatkan dengan sangat mudah? Atau justru banjir informasi membuat kita muntahmuntah dan tidak tahu lagi yang mana informasi dan yang mana sebatas konten tanpa arti? Di masa pra-digital, tantangan manusia adalah bagaimana ”menemukan informasi”.
Informasi tidak tersedia di depan hidung kita dan mesti diburu dari mana saja. Kemudian, internet datang. Informasi pun bisa didapatkan dengan terlalu mudah. Namun, kemudahan dalam mengakses informasi sesungguhnya sepaket dengan kemudahan dalam memproduksinya. Kita lihat, produksi informasi pun tereskalasi gila-gilaan.
Ujungnya, model ”tantangan un tuk menemukan” berubah menjadi ”tantangan untuk menye lebih sulit dilakukan, lebih-lebih jika belantara informasi yang kita terjuni sudah pekat dengan pertarungan aneka kepentingan. Bukan sebatas ke pentingan sereceh monetisasi, tetapi sudah masuk ke ranah pertarungan global, mulai politik hingga ekonomi.
Dalam peta semacam itu, kita bukan hanya menjumpai informasi sampah yang dibuat ala kadarnya, namun juga informasi hasil fabrikasi terorganisasi. Mungkin demi tujuan penggalangan dukungan impulsive dari publik digital, bisa jadi pula demi pembentukan suatu legitimasi politik.
Isu tentang Syiah, saya duga kuat, berada dalam pusaran pertarungan informasi sebagaimana yang saya gambarkan tadi. Maka, kalau saya meng andalkan internet untuk mem bu ru informasi, yang akan ”Awas, Syiah Bukan Islam”; ”Syiah dan Iran Kaki Tangan Dajjal”; dan berbagai tajuk senada do nesia, versi Syiah sendiri ternyata sedikit sekali. Kenapa? Ada beberapa kemungkinan yang saya amati.
Pertama, karena memang kelompok-kelompok yang secara ideologis anti- Syiah semakin kuat di Indonesia dan mereka punya sumber daya melimpah untuk melakukan fabrikasi informasi. Sementara, kelompok Syiah tetap saja minoritas. Kalau toh sumber dayanya ada, skalanya jauh di bawah kelompok di seberangnya.
Kedua, pusat kekuatan kelompok Syiah global itu di Iran dan Iran berbahasa Persia. Adapun orang Indonesia secara umum lebih mudah mengakses (dan menerjemahkan) sumber berbahasa Inggris dan Arab ketimbang yang berbahasa Persia. Alhasil, wacana tanding terhadap informasi massal itu juga terlalu minim. Dengan situasi demikian, bagaimana saya menuntaskan bertahun-tahun rasa penasaran atas ”macam apakah sebenarnya orang-orang Syiah ini”?
Akhirnya, saya memilih menggunakan cara lawas, cara yang ditempuh Ibn Battuta hingga Tome Pires –meski yang saya jalankan hanya versi litenya hehe. Saya pun terbang ke Iraq dan berbaur dengan umat Syiah dalam long march akbar dari Kota Najaf hingga Karbala. Di situlah, saya tiba di tengah jutaan orang yang tidak kenal saya, yang tidak mungkin bekerja sama membuat konspirasi untuk mengarang in formasi, lalu beramai-ramai menjejalkannya ke mulut saya.
Perjalanan yang saya ikuti itu, kalua boleh saya istilahkan, adalah perja lanan tabayun. Dengan satu misi, saya memang sengaja datang ke sebuah tempat, nyebur langsung ke tengah lautan jutaan manusia, menyaksikan langsung apa yang mereka lakukan, menguping kata-kata yang mereka ucapkan, dan dari situ saya merangkai keping-keping kecil menjadi satu pemahaman. Nah, pemahaman itulah yang kemudian saya tuturkan dengan verbal dan visual, menjadi buku catatan perjalanan naratif penuh cerita dan foto-foto aneka rupa.
Di coretan pendek ini, saya tidak me rasa perlu membahas hasil pembuktian saya tentang seperti apakah orang-orang Syiah. Yang ingin saya sampaikan di sini sederhana saja: justru di masa kita mabuk dengan so-called informasi, ternyata turun langsung secara fisik untuk ”konfirmasi” menjadi cara terhormat untuk mendekat kepada realitas sejati.
Hari ini, artificial intelligence telah siaga menggempur kita dengan kejutan-kejutannya. Di saat begini, ternyata melakukan perjalanan, lalu dengan berpeluh dan berdebu secara langsung melakukan pengamatan.
---
IQBAL AJI DARYONO, Esais, penulis buku Lelaki Sunni di Kota Syi’ah
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022