Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Januari 2025, 13.00 WIB

Keluh Kesah di Atas Piring ”Food Tray Stainless Steel”

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Yang pertama saya lihat ketika beredar foto-foto makanan program andalan Presiden Prabowo Subianto untuk siswa di sekolah adalah piring makanannya. Alih-alih isinya, melainkan wadahnya.

Frasa dari wadah itu ”food tray stainless steel”. Hasil pencarian pertama Google ketika mendefinisikan frasa itu adalah ini: ”sebuah piring makanan unik yang biasanya digunakan di rumah sakit, barak militer, kapal, bahkan ada pula penjara ...”

Saya tak perlu naruh harga wadah itu di sini dan siapa vendor yang diuntungkan dari persenannya, tetapi garis bawahi kata-kata ini: ”rumah sakit”, ”barak militer”, ”penjara”.

Kita sudah normal dengan arti kata ”pakaian seragam” berlaku di sekolah. Kini, soal makanan pun kita seragam. Soal sandang kita sudah maklum, soal pangan pun kita sedang belajar menuju untuk seragam. Dan, supaya intensif penyeragaman itu, mulailah dari usia sekolah paling dasar, paling dini.

Juga, sudah lama sekali sekolah dituding tak ubahnya ”rumah sakit”, ”penjara”, dan ”barak militer”. Setelah reformasi, istilah-istilah ini seperti tiarap, serupa lama tak terdengarnya dalam percakapan pedagogik kita nama Paulo Freire dan judul buku yang terlarang di beberapa negara, Pedagogy of the Oppressed.

Dari pilihan wadah makanan rezim yang sedang mempraksiskan sejak awal ”politik elektoral”, seperti itu politik pendidikan kita sedang dibangun. Sebagai pembaca sejarah, saya tidak percaya program ”makan gizi gratis” itu demi gizi itu sendiri. Ini adalah politik elektoral masif yang dibungkus dengan makanan.

Pemerintah tidak sedang benar-benar memperjuangkan apa yang disebut politik ketahanan dan keragaman pangan yang holistik di mana itu mestilah diajarkan di sekolah sejak dini. Bukan sekadar diajarkan, tetapi dihadirkan di piring makanan.

Ini politik elektoral untuk memperpanjang kekuasaan. Seperti bansos ini dan itu, presiden ingin hadir tiap hari dalam wadah makanan yang menunya seragam dalam wadah ”yang biasanya digunakan di rumah sakit, barak militer, kapal, penjara ...”

Walau dibungkus dengan frasa ”gratis”, program ini sedang melakukan apa yang dalam dunia investasi akrabi, yakni ”dollar cost averaging”. Sebuah siasat membeli kekuasaan secara berkala.

Agar DCA kekuasaan ini efektif, sistem ”barak militer” dan ”penjara” mestilah diterapkan. Tak boleh mencereweti makanan, tak boleh ”memaki makanan” sebagaimana edaran etika makan ala Kementerian Agama. Makan saja apa yang di depanmu.

Sekolah yang biasanya menjadi madrasah bagi siswa untuk bertanya mengapa ini mengapa itu, kini tradisi kritis menjadi praktik subversif dalam sistem barak dan penjara yang menginginkan kepatuhan total dan ketertutupan.

Sudah menjadi bagian dari sistem itu melarang ambil gambar dan ”membawa keluar” apa yang ada di atas nampan ”makanan bergizi” itu. Guru yang biasanya jadi pamong perlahan berubah menjadi sipir. Sebab, wajah dari sistem ini tecermin dalam wadah berukuran 20 cm x 25 cm itu. Apa yang ada di wadah itu, seperti itulah wajah sejatinya program ini.

Operasi Buta Gizi

Kalau berpikir historis dan membuang sejenak ”politik elektoral” di atas piring makanan tersebut, program ini sejatinya sudah ada sejak lama. Bukan ”makan gizi”, tetapi operasi buta gizi.

Pada masa pemerintahan Soekarno, operasi pemberantasan buta huruf (PBH) sama pentingnya dengan pemberantasan buta gizi (PBG).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore