Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 Februari 2024, 14.00 WIB

Pemilu Bergitar

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Rhoma Irama turun kampanye lagi. Itu jauh dari mengejutkan. Meskipun sempat menyebut hendak netral di Pemilu 2024, pada akhirnya hasrat untuk ”mengubah dunia” itu kembali memanggilnya. Bagaimana lagi? Banyak musisi bisa dikaitkan dengan politik, namun Rhoma Irama selalu ada di level yang berbeda.

KETIKA membentuk Soneta di usia 23, Oma Irama muda tak lebih dari musisi yang gelisah. Menjadi biduan di banyak orkes Melayu tak membuatnya puas; memenangi kontes pop tak memenuhi cita-citanya. Ia ingin memimpin orkesnya sendiri, menyanyikan lagu-lagunya sendiri, dengan musik yang diramunya sendiri.

Jika saya tak salah menyimak, semuanya masih soal musik: menjajal berbagai formasi, gonta-ganti pasangan duet, coba-coba dengan bunyi. Dalam soal lirik, hingga belasan album kita tak mendengar apa pun dari Soneta selain cinta-cintaan dan nasihat-nasihat klise yang ringan.

Bagaimanapun, Oma anak tentara. Ia menikmati privilese kelas menengah kota, kelas yang paling banyak melahirkan musisi di negeri ini. Sepanjang 1960-an, satu dekade yang penuh gejolak politik, Oma remaja sepenuhnya terobsesi dengan gitar, band, dan panggung. Obsesi itu yang membuatnya jadi pemberontak (ribut dengan ibunya, lari dari rumah, sekolah kacau, kuliah amburadul), bukan oleh alasan lain. Sampai semboyan Voice of Moslem yang ia lekatkan pada kelompok orkesnya kemudian mengubahnya.

Semboyan itu tampaknya berdampak sangat besar pada diri Oma, lebih dari sekadar menjadi lebih moralis dan lebih agamis sebagaimana yang selama ini banyak dibahas. Tak juga cuma soal nama yang berubah, dari Oma menjadi Rhoma usai berhaji. Secara politik, ia juga menjadi lebih jelas dan tegas coraknya. Sangat jelas, menjadi lebih agamis membuat Rhoma juga menjadi lebih politis.

***

Lagu ”Rupiah” dari album Rupiah (Soneta Vol 3, 1975) sebenarnya tidak sangat agamis, tak juga terlalu politis. Namun, inilah awal Rhoma berurusan dengan kekuasaan. Lagu yang mengkritik obsesi orang terhadap uang itu konon dianggap penguasa merendahkan mata uang negara. Pada album berikutnya, Darah Muda (Soneta Vol 4, 1976), untuk kali pertama nama Rhoma Irama diperkenalkan dan Rita Sugiarto muncul menggantikan Elvy. Dengan lagu ”Kematian”, identitas Voice of Moslem pada Soneta ditegaskan.

Album Hak Azasi (Soneta Vol 8, 1977) rilis bersamaan dengan dilangsungkannya Pemilu 1977. Menyebut-nyebut kata ”Pancasila”, ”demokrasi”, hingga ”hak azasi manusia”, lagu ini tampak baik-baik saja sampai Anda meletakkannya dalam konteks politik saat itu. Kepada Tempo pada 2012, Rhoma menyebut lagu ini adalah sindiran untuk Golkar yang ingin memenangi pemilu dengan pemaksaan dan intimidasi.

”Janganlah suka memperkosa kebebasan warga negara // Karena itu bertentangan dengan perikemanusian,” ujar Rhoma yang saat itu mulai terjun kampanye untuk Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang di Pemilu ’77 menjadi satu-satunya representasi umat Islam.

Perlu dicatat, di album ini ada lagu ”Ingkar”. Salah satu lagu paling ngerock yang pernah diciptakan Rhoma sekaligus lagu dengan ayat-ayat Alquran bertaburan ini mengecam manusia yang ingkar dengan Tuhannya karena tak tahu ilmu agama.

Politik dan dakwah agama kembali dipertemukan dengan sempurna pada album Indonesia (Soneta Vol 11, 1980). Album ini diawali dengan salam dan sebuah ceramah pendek tentang baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur (negeri yang adil dan makmur) untuk mengantar lagu ”Indonesia”.

Dari menyitir ayat, Rhoma dengan gesit berpindah ke kritik atas konstitusi negara yang gagal diterapkan. Dalam 6,32 menit, Rhoma bicara tentang gagalnya penerapan Pasal 33 ayat 3 UUD ’45 dalam cara paling terang yang bisa dibayangkan. Di negeri yang ”subur serta kaya-raya”, Rhoma bertanya-tanya, ”mengapa kehidupan tidak merata”? Penjelasannya, karena ”korupsi semakin menjadi-jadi”. Lalu, Rhoma dengan keras menghardik: ”Negara bukan milik golongan, dan juga bukan milik perorangan. Maka jangan seenaknya memperkaya diri membabi buta.”

Untuk yang tidak tahu, semboyan ”yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin” yang hingga kini masih relevan itu diambil dari lagu ini.

***

Kita mungkin punya beberapa nama musisi yang getol bicara politik dalam musiknya. Tapi, hanya Rhoma yang menyiapkan sebuah album untuk menyambut sebuah pemilu. Dan album itu diberi judul Pemilu (1982).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore