
ILUSTRASI
Oleh CANDRA MALIK
---
Hari-hari ini, jika ada sosok muda dan baru, yang kehadirannya mampu menjadi magnet bagi puluhan atau bahkan ratusan ribu manusia, tanpa meminta agar mereka memilihnya jadi pemimpin nasional, Gus Iqdam orangnya. Lautan manusia menyemut di Majelis Ta’lim Sabilu Taubah. Ini apa jika bukan karamah? Siapa yang merancangnya?
SUDAH beberapa bulan lalu saya dengar adanya fenomena yang melejit dengan jargon ”dekengan pusat” ini. Tapi, saya belum seberuntung Sampean yang sudah sowan langsung kepada beliau, baik di majelisnya di Pesantren Mambaul Hikam II di Blitar, Jawa Timur, maupun di pengajian-pengajiannya di berbagai daerah.
Syukurlah sekarang era TikTok. Beruntung, saya membuka tautan yang muncul di linimasa Facebook pada malam hari di masa libur awal tahun 2024. Ada penanya yang mewakili pertanyaan saya: apa tirakat Gus Iqdam sehingga bisa menghadirkan ribuan orang ke majelisnya? Di sebuah tayangan, akhirnya saya temukan jawaban: karamah.
Sampean insya Allah akan mudah pula menemukan kanal itu. Singkatnya, Gus Iqdam mengonfirmasi betapa dirinya bisa seperti sekarang berkat karamah kakeknya, KH Zubaidi Abdul Ghofur, dan leluhurnya yang lain, dan guru-gurunya. Kiai muda yang pernah nyantri di Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, ini bercerita sampai menangis.
Pertanyaan kedua: siapa yang merancang? Ada ilustrasi menarik. Gus Iqdam berkata, rekening majelis sengaja dipublikasikan agar siapa pun bisa berkontribusi, termasuk kita yang belum bisa datang langsung ke sana. Inilah karamah berikutnya: karamah medsos! Gus Iqdam hadir di era teknologi komunikasi canggih: tinggal klik, pesan sampai.
Pesan apa pun itu, termasuk pesan dakwah. Berkat layar virtual, yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi semakin lekat. Apa yang disampaikan para pendakwah, dalam hal ini Gus Iqdam, bahkan bisa disimak berulang-ulang. Sebagian di antaranya, ya, memang ditampilkan sebatas potongan. Tapi, tautan ofisial niscaya menyajikannya utuh.
Artinya, kita yang masih terkendala ruang dan waktu bolehlah mengaji dari rumah atau mana pun. Bukan mengaji kepada Mbah Google, Mbah YouTube, atau Mbah TikTok, seperti yang selama ini dijadikan bahan olok-olok oleh sebagian kalangan terhadap orang-orang yang tak pernah mondok. Toh media-media sosial itu hanyalah wasilah. Sarana.
Persoalannya kembali kepada kita dalam memilih kiai, gus, ustad, mubalig, atau penceramah yang memakai alat syiar digital itu. Sebab, ada saja yang menyebarkan kebencian dan permusuhan. Ada pula yang sekadar ingin viral. Lebih dari itu, benarlah Gus Kautsar bahwa yang paling tahu aslinya Gus Iqdam ya istrinya, Ning Nilatin Nihayah.
Orang-orang mengenalnya dengan sapaan Ning Nila. Menikah Februari 2021, keluarga pasangan muda ini telah dikaruniai seorang putra, yakni Gus Ahmad Novel Zubaidi Al Munawwir. Tak kurang dari 259 ribu akun di Instagram yang telah menjadi pengikut Ning Nila. Era medsos memang memberi percepatan luar biasa dalam penyebaran pengaruh.
Baca Juga: Tahun yang Baru, Janji Politik Lama
Gawagis dan Nawaning, jamak bagi Gus dan Ning, kalangan elite di pesantren atau keluarga kiai, khususnya di Nahdlatul Ulama, menjadi pusat perhatian tidak hanya di lingkungan internal. Sebagian dari mereka juga telah menanamkan pengaruh lebih luas dengan mengembangkan sayap-sayap dakwah di majelis hybrid via live streaming.
Kanal TikTok Majelis Ta’lim Sabilu Taubah ditonton jutaan pemirsa dan jumlah itu akan terus bertambah sebagai suatu keniscayaan jejak digital yang dapat ditapaktilasi siapa pun. Seorang Gus Baha’ pun, yang mulanya kurang berkenan dengan popularitas, kini sangat termasyhur dan mudah ”ditemui” di linimasa platform apa pun di media sosial.
Dunia pesantren memasuki babak baru perwajahan. Sah-sah saja mencukupkan diri sebagai pesantren tradisional, hanya bisa diakses dengan langsung datang ke lokasi. Namun, tidak ada yang bisa melarang pula jika ada saja satu–dua orang yang pernah ke sana, kemudian membagikan pengalaman dengan mengunggah ke jejaring internet.
