Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 1 November 2017 | 04.32 WIB

Rohingnya Masih Mencekam, Relawan Indonesia: Keluar Ancamannya Mati

Tim  Yayasan Daarul Rizki (DRP) ketika memberikan bantuan kepada warga Rohingnya, Myanmar. - Image

Tim Yayasan Daarul Rizki (DRP) ketika memberikan bantuan kepada warga Rohingnya, Myanmar.

JawaPos.com - Kekerasan yang dialami oleh umat muslim Rohingya merupakan tragedi kemanusiaan yang kini menjadi perhatian dunia.


Perlakuan diskriminasi, pembunuhan hingga terusirnya etnis Rohingya dari Myanmar menjadi pelengkap akan kekejaman rezim pemerintah.


Saat ini, ada 200 ribu jiwa yang terisolasi dan melarikan diri ke dalam hutan mendekati perbatasan Bangladesh, yang hidup dalam kecemasan lantaran sewaktu-waktu nyawa mereka bisa direnggut oleh para militer atau kaum biksu.


Ironisnya, sebagian besar adalah anak-anak yatim dan piatu yang orang tuanya dibunuh secara keji oleh pihak Myanmar.


Kondisi ini membuat Yayasan Daarul Rizki (DRP) terketuk untuk memberikan bantuan.


Selama lebih dua minggu melakukan kajian dan mematangkan strategi tim kemanusiaan, DRP pun berangkat ke daerah konflik. Bertolak dari Jakarta menuju Yangon, dilanjutkan ke Sittway, akhirnya tim kemanusiaan DRP sampai ke Rakhin State, Rohingya.


Sangat sulit bisa memberikan bantuan, sebab pengawasan ekstra ketat diberlakukan pemerintah setempat. Hampir setiap beberapa kilometer jalanan berdiri pos penjagaan militer bersenjata lengkap.


Hal itu diakui Ketua Koordinator Pemberian Aksi Kemanusiaan Yayasan DRP, Haries Fadillah.


"Kami memberikan bantuan kemanusian berupa paket sembako, pakaian, sarung untuk 10 ribu warga Rohingya yang hidup di dalam hutan," ujar dia dalam keterangan tertulisnya kepada Jawapos.com, Selasa (31/10).


Menurut Haries, warga Rohingnya hidup dalam kelaparan lantaran terisolasi. "Kalau keluar maka ancamannya mati," ujarnya.


"Anak-anak paling menderita, sebab mereka mengalami trauma yang amat berat. Saat saya tiba, mereka lari ketakutan karena mereka takut ditangkap dan dibunuh, yang menakjubkan adalah mereka tetap memegang teguh agama Islam dan terus menjalankan salat lima waktu," ujarnya.


Haries sendiri mengaku kalau dirinya tidak berani membeberkan dimana saja lokasi dia memberikan bantuan. Khwatir nantinya menjadi bahan informasi pemerintah Myanmar.


"Tidak, saya khawatir kalau saya sebut maka persembunyian warga Rohingnya diketahui," pungkasnya

Editor: Administrator
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore