alexametrics
Bottle Smoker Bikin Konser Plantasia

”Dengarkan” Musik 90 Menit, Lombok Hijau Jadi Matang

27 Juli 2020, 16:06:58 WIB

Konser yang dihelat Sabtu (25/7) itu sungguh beda. Penontonnya bukan manusia. Melainkan tanaman. Bahkan, aransemen yang dihadirkan pun khusus tanaman.

FARID S. MAULANA, Bandung, Jawa Pos

JANGANKAN diresapi, untuk didengarkan saja, repertoar yang dibuat Bottle Smoker bisa bikin pusing kepala manusia. Suara alam yang dipadukan dengan frekuensi audio 5 ribu hertz itu sama sekali tak nyaman di telinga. Dua personel Bottle Smoker, Agung Suherman (Angkuy) dan Ryan Adzani (Nobie), bahkan harus menggunakan earplug agar bisa fokus memainkan ritme dalam berbagai peralatan musik elektronik di hadapan mereka.

Namun, suara musik nyeleneh yang berlangsung selama 90 menit itu justru bisa dinikmati tanaman. Ya, tanaman. Sebab, duo musisi elektronik tersebut membuat Konser Plantasia hanya untuk tanaman. Tentu banyak orang akan mengernyitkan dahi, atau malah heran dengan ide yang diusung Bottle Smoker dalam konsernya itu.

Selain hanya dikhususkan tanaman, live streaming videonya pun tidak diperkenankan ditonton atau didengarkan manusia. Lalu, apa tujuan mereka menggelar konser tersebut?

Angkuy menuturkan, ide awal konser nyeleneh itu tak lain karena adanya pandemi korona. Bottle Smoker yang biasanya rutin tampil harus berhenti total. Baik on air maupun off air. Sebagai musisi yang punya banyak ide kreatif, hal tersebut coba didobrak.

”Kami langsung mikir, konsep apa ya yang bisa ditampilkan, tapi tetap tidak melanggar protokol kesehatan. Lalu, kami mikir, bagaimana kalau bikin konser, tapi bukan untuk manusia,” katanya, lantas tertawa. Ide itu langsung direspons timnya. Diskusi demi diskusi dijalani untuk menemukan formula efektif agar tetap berkarya nyata di masa pandemi.

Nah, dalam perjalanan menemukan formula itu, Angkuy dan Nobie melihat ada kebiasaan baru yang sedang booming di masyarakat selama pandemi korona. Ada lifestyle baru yang digandrungi anak muda. ”Ada bersepeda dan kebanyakan menanam tanaman di rumah, house plant. Itulah titik awal menemukan ide konser ini,” jelasnya. ”Ide untuk membuat konser yang penonton manusia diganti dengan penonton tanaman,” lanjutnya.

Ide itu langsung dieksplorasi. Angkuy dan Nobie mencoba mencari keterkaitan musik dengan tanaman. Eksplorasi berlanjut pada penemuan berbagai kajian ilmiah tentang hubungan tanaman dengan musik. ”Ternyata musik bisa memengaruhi pertumbuhan tanaman. Dari situ, kami mulai mempelajari apa saja karakter musiknya, lalu pola-polanya apa saja, dan lain-lain,” paparnya.

Tidak mudah, walau memainkan genre elektronik yang bisa punya keterkaitan dengan banyak genre musik. Memainkan instrumen khusus untuk tanaman ternyata jauh berbeda dengan apa yang selama ini disajikan dalam Bottle Smoker. Bahkan, karya-karya yang selama ini dipunyai band asal Bandung itu tidak bisa dimainkan lagi untuk ide tersebut. ”Kami murni membuat aransemen khusus. Semua baru, basic musiknya menyesuaikan kajian ilmiah yang kami gabungkan dengan peradaban Indonesia,” tegasnya.

Menurut kajian ilmiah soal hubungan musik dengan pertumbuhan tanaman, Bottle Smoker wajib memasukkan beragam unsur di dalamnya. Yang pertama genre musik klasik dengan pola-pola khusus. Lantas, wajib ada unsur string di dalamya.

Tak berhenti dipusingkan dengan mempelajari musik rumit tersebut, Bottle Smoker juga wajib memainkan irama itu dalam frekuensi audio 5 ribu hertz. ”Ada memainkan melodi yang repetitif, menghindari low frequency, banyak sih lain-lainnya, termasuk suara alam bunyi burung, bunyi air, bunyi angin seperti itu.”

Untuk peradaban Indonesia, Angkuy dan Nobie mempelajari sejarah Dewi Sri. Sang ratu padi yang terkenal dalam kebudayaan Jawa. ”Ternyata ada beberapa ritual di dalamnya, ada istilah musik tarawangsa. Salah satunya ada musik karinding yang dulu digunakan untuk mengusir hama,” katanya. Mereka kemudian berasumsi, dengan memunculkan frekuensi-frekuensi bebunyian karinding, pendengaran hama bakal terganggu. ”Lalu, kami mencoba mengolahnya,” bebernya.

Kurang lebih satu bulan, repertoar khusus untuk tanaman pun jadi. Total ada 90 menit. Tentu tidak sreg jika tidak mempraktikkannya langsung. ”Waktu kami coba, ternyata memang ada pergerakan pada tanaman. Kami berasumsi lagi, berarti bisa nih untuk dicoba.”

Format konser lantas dipikirkan. Lou Belle Space, Bandung, dipilih jadi lokasi konser. ”Kami namai konsernya Plantasia. Terinspirasi dari salah satu lagu dari idola kami, Mort Garson, berjudul Plantasia. Jadi nama konser dan muncullah konsep pertunjukan musik untuk tanaman ini,” ungkap pria 35 tahun tersebut.

Konsep dalam konser itu pun unik. Untuk mencari tanaman yang akan dijadikan percobaan (baca: penonton), Bottle Smoker membuat pengumuman melalui media sosial. Isinya tentang siapa saja yang mau mendaftarkan tanamannya untuk jadi penonton Konser Plantasia. Hanya beberapa hari, 50 tanaman sesuai kuota terpenuhi.

Lantas, disusunlah jadwal. Para pemilik tanaman diminta ngedrop di depan lokasi konser. Jadwal itu harus benar-benar ditaati untuk mematuhi protokol kesehatan. Sesudah itu, pemilik tanaman bakal mendapat link untuk melihat konser secara streaming. ”Bukan menonton sih, yang lebih tepat mengawasi apakah tanamannya baik-baik saja selama konser. Karena kalau ditonton dan dinikmati, musik untuk Plantasia ini tidak untuk manusia,” kata alumnus ilmu komunikasi Unpad tersebut.

Sesudah konser, pemilik juga terjadwal ketika mengambil tanaman-tanamannya. Tidak hanya sampai di situ, pemilik tanaman akan mendapat audio file dari konser tersebut. Harapannya, mereka bisa kembali memutarkan musik tersebut di rumah masing-masing setiap hari. ”Lalu, mereka nanti bisa bercerita ke kami bagaimana pengaruh musik itu terhadap tanaman masing-masing,” sambungnya.

Lantas, untuk Konser Plantasia, apa keuntungan yang didapat Bottle Smoker? Angkuy mengaku tidak ada. Artinya, pendapatan secara langsung saat konser digelar sama sekali nol. Dari digital pun akan sulit. Sebab, akses untuk streaming hanya ditujukan untuk 50 pemilik tanaman.

Kenapa tidak membuka akses streaming untuk publik? ”Pasti akan ada reduksi-reduksi atau terkompres selama proses streaming. Tidak akan sampai 5 ribu hertz, device, dan segala macam yang digunakan sangat berpengaruh. Jadi, kami putuskan untuk membatasi, hanya kami yang memainkan musik di konser secara langsung untuk tanaman,” jelasnya.

Angkuy menegaskan, keuntungan yang dilihat Bottle Smoker adalah bisnis jangka panjang. Artinya, jika Konser Plantasia berhasil membuat pertumbuhan tanaman makin baik, Bottle Smoker punya kans untuk bisnis yang lebih menjanjikan di masa depan. Menjadi lahan baru bagi musisi elektronik yang terkendala masa pandemi seperti saat ini. ”Beberapa kota sudah meminta kami membuat pertunjukan serupa, bahkan di luar negeri. Jadi, ini lahan yang baru bisa kami kembangkan lagi,” paparnya.

Angkuy dan Nobie merasa puas dengan Konser Plantasia. Bahkan, Angkuy mengatakan sempat melihat langsung tanaman lombok yang awalnya berwarna hijau kecil berubah membesar dan matang setelah konser 90 menit. ”Alhamdulillah puas banget. Tapi, juga pemilik tanaman puas, vibrasinya pas sekali. Sejauh ini untuk feedback tanamannya belum banyak yang melapor,” tutur Angkuy.

 

Saksikan video menarik berikut ini:

 

 

 

Editor : Ilham Safutra

Reporter : */c10/oni



Close Ads