
Tiga kereta jenazah peninggalan era kolonialisme Belanda dipamerkan setiap dua minggunya di halaman Kantor Kelurahan Kutowinangun Lor, Tingkir, Salatiga.
JawaPos.com - Tiga benda peninggalan era kolonialisme pemerintahan Belanda di Indonesia dipamerkan setiap dua minggunya di Kantor Kelurahan Kutowinangun Lor, Jalan Dr Muwardi, Tingkir, Salatiga. Ketiga benda tersebut adalah kereta jenazah yang dipercaya warga mengandung klenik.
Meski mengandung banyak simbol pada desain ketiga kereta itu sendiri, termasuk salah satunya yang memiliki lambang organisasi rahasia Freemasonry. Fokus warga masih belum ke sana.
"Kita kenal Freemasonry sebagai organisasi yang dikait-kaitkan sama satanic, walaupun bukan ya. Tapi orang-orang lebih percaya ke cerita mistisnya kereta ini," terang Warin Darsono, 30, juru rawat tiga kereta jenazah ini.
Hal mistis dimaksud Warin menurut pengakuan warga yang ia dengar adalah bagaimana kereta jenazah tersebut bergeser saat tak diamati. "Atau katanya kalau difoto, tidak kelihatan. Tapi saya sendiri secara personal belum pernah ngalamin," sambungnya.
Warin tak terlalu menggubris cerita warga, karena dirinya lebih tertarik akan sejarah dari ketiga kereta tersebut. Bahkan mencari koneksi hingga ke Negeri Kincir Angin sana dijabani demi dapat menggali informasi lebih.
Usai memperoleh dokumen dari kenalan di Universtias Leiden dan Museum Brokbeek sana, barulah ia tahu banyak hal tentang kereta yang kebradaanya dia endus sejak masih kecil. Wiraswastawan kelahiran tahun 1988 ini mengaku tahu akan eksistensi peninggalan zaman penjajahan Belanda itu sejak masih duduk di bangku sekolah dasar.
"Tahunya dulu kereta itu gerbong, tapi setelah tahu lokasinya tahun 2012 tepatnya di garasi depan kelurahan ini, barulah tahu kalau ternyata kereta jenazah, kerandanya juga ada," lanjutnya.
Sesuai penuturannya, ketiga kereta dibangun pada masa berbeda, masing-masing oleh Pabrik Rijtuigmaatschapij Voorheen Fuchs Batavia. Untuk tahunnya, pertama sekitar 1820-an awal, 1800-an akhir, dan 1920.
Kereta jenazah ini, kata Warin, selain digunakan untuk mengangkut korban perang pada masanya, juga pernah dibuat membawa jenazah orang berpengaruh. Diantaranya peletak batu pertama Gereja Indische Kerk di jalan Jenderal Sudirman.
Namun, dari sekian banyak hal, yang mengusik Warin adalah bagaimana peninggalan bersejarah macam ini terbengkalai begitu saja tanpa ada yang mengetahui.
"Sudah didaftarkan ke BPCB (Balai Pelestarian Cagar Budaya) di Klaten sana tahun 2015. Cuma kok ini yang merawat masih perorangan, dari kami-kami ini seperti Komunitas Rumah Tua, Boyolali Heritage Society, teman-teman dari arkeologi UGM, Kendal, Purworejo. Kami patungan untuk perawatannya," kata bapak satu anak ini.
Ia jelas menyayangkan minimnya andil pemerintah setempat meski ketiga kereta tadi telah terdaftar sebagai aset Kota Salatiga. Padahal, untuk keperluan perawatan, banyak sekali yang masih dibutuhkan.
Dapat dilihat kondisi terakhir ketiga kereta jenazah tersebut cukup mengenaskan. Seperti pada roda kayu yang patah, cat dimana-mana mengelupas dan kayu lapuk selain dimakan rayap tapi juga karena kondisi ruang penyimpanan yang jauh dari kata layak.
"Garasi bagian atas itu ada lubangnya, sehingga kalau hujan air langsung masuk, kalau bisa diperbaiki lah. Dipamerkan dua minggu sekali itu sekalian perawatan dan kita juga masih pakai peralatan seadanya, seperti pakai bunga sedap malam sebagai ganti higrometer. Kopi bubuk untuk mengikat kelembaban sehingga kalau ada jamur, tumbuhnya di situ. Buat warga mungkin malah kelihatan seperti klenik," candanya.
Warin dan rekan-rekan berharap suatu saat nanti ketiga kereta jenazah tersebut dapat diperlakukan bak artefak penting lain oleh pemerintah. Karena dalam benaknya, ia kereta yang pertama kali dipamerkan tahun 2017 lalu ini jadi wisata edukasi bagi wisatawan lokal maupun asing.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Armenia vs Latvia di Liga Nations UEFA: Sarkanbaltsarkanie Paksa Tuan Rumah Imbang
Prediksi Skor Montenegro vs Siprus di Liga Nations UEFA: Duel Sengit Rawan Imbang di Pod Goricom
Prediksi Skor Polandia vs Bosnia-Herzegovina di Liga Nations UEFA: Zmajevi Siap Kejutkan Tuan Rumah
Guruh Soekarnoputra Meninggal, Ini Daftar Anak Soekarno yang Masih Hidup dan Sudah Tiada
Guruh Soekarnoputra dalam Kondisi Kritis, Dirawat Intensif di RS Siloam Semanggi
Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Georgia vs Irlandia Utara di Liga Nations UEFA: Jvarosnebi Pesta Gol di Kandang
Prediksi Skor Slovakia vs Moldova di Liga Nations UEFA: Sokoli Borong Gol di Futbal Tatran Aréna
Prediksi Skor Bangladesh vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Harimau Malaya Curi Kemenangan
Prediksi Skor Albania vs Belarus di Liga Nations UEFA: Kuq e Zinjtë Menang Tipis Hadapi Tim Tamu

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022