
BUATAN WARGA: Mulyadi Gunawan membuat batik khas Surabaya yang dipesan beberapa instansi pemerintah beberapa waktu lalu. Batik jarak arum merupakan batik yang banyak dipesan.
Fitria tak gentar meski ditinggal sembilan rekannya saat mulai menggarap batik jarak arum. Lewat ketelatenan, sembilan tahun berselang, karyanya yang mewakili produk unggulan Jatim dipamerkan di Paris.
YUDHA FURY KUSUMA, Surabaya
SAAT ditemui di kediamannya, Fitria membuka lagi kenangan itu. Awal mula dia membuat batik jarak arum.
Tepatnya pada 2014, Fitria bersama sembilan rekannya mengikuti pelatihan membatik. Kelas itu dibuka untuk memberikan pelatihan bagi warga yang berada di bekas lokalisasi Dolly. Tujuannya, mereka bisa membuka usaha batik.
Satu per satu rekan Fitria mrotol. Mereka tidak sabar dengan jenjang pelatihan yang harus diikuti. Memang terkadang kebutuhan perut tidak bisa ditunda.
”Akhirnya tinggal saya. Mungkin karena butuh ketelatenan lebih, makanya banyak yang tidak kuat,” ujar Fitria saat ditemui minggu lalu.
Selepas ditinggal teman-temannya, Fitria berfokus membuat produk batik yang mewakili ciri khas Dolly di masa silam. Dia memilih motif daun jarak yang juga merupakan nama jalan tempatnya berkarya.
”Ditambah motif kupu-kupu, yang identik dengan wanita pekerja seks komersial (PSK),” ucapnya.
Lewat karya itu, Fitria punya misi khusus. Dia ingin nama Dolly bersih. Tidak lagi identik sebagai tempat esek-esek. Namun dikenang sebagai pusat kerajinan batik khas Surabaya.
Usahanya tak sia-sia. Pada 2020 produknya berhasil mewakili Kota Surabaya, bahkan Jawa Timur, untuk dipamerkan di Kota Paris, Prancis.
Untuk menghasilkan batik jarak arum, Fitria menggunakan teknik batik tulis dan batik cap. ”Bergantung pesanan. Kalau mau lebih bagus, ya batik tulis,” ujarnya.
Harga batik tulis dipatok Rp 350 ribu hingga Rp 4 juta. Sedangkan batik cap mulai Rp 200 ribu. Itu bergantung kerumitan dan kualitas kain. ”Ciri khas daun jarak tetap dipakai,” paparnya.
Menurut Fitria, setiap goresan batik tersebut memiliki makna yang dalam. Karena itu, pembuatannya tak bisa asal. Seorang pembatik juga tahan panas berjam-jam. ”Karena lilin yang digunakan dalam keadaan panas,” paparnya.
Setiap bulan dia menerima pesanan batik dari instansi pemerintah maupun perorangan. ”Alhamdulillah, selain dari pemkot, pemasaran melalui media sosial dan dari mulut ke mulut,” ujarnya. Dalam sebulan dia bisa mengantongi omzet hingga Rp 6 juta.
