alexametrics

Lintas Generasi, Kisah Unik Film Mahasiswi Baru yang Dibalut Komedi

9 Juli 2019, 08:50:59 WIB

JawaPos.com – Kadang menyampaikan pesan sosial harus disampaikan dengan cara yang berbeda. Hal itulah yang coba dilakukan MNC Pictures lewat  film Mahasiswi Baru. Film garapan Monty Tiwa tersebut menghadirkan fenomena sosial pendidikan dalam kampus namun dibalut dengan genre komedi. Uniknya lagi, film ini menampilkan aktor kawakan lintas generasi.

Film yang akan tayang 8 Agustus 2019 ini berkisah tentang mahasiswi lanjut usia bernama Lastri yang diperankan Widyawati, yang masih semangat untuk mengeyam bangku pendidikan. Karena berstatus sebagai mahasiswi baru, tentu ada serangkaian kisah seru seperti ospek kampus yang menantang.

Dalam konferensi pers peluncuran poster dan trailer Mahasiswi Baru, Monty Tiwa merasa tertantang selama proses syuting. Sebab, film ini melibatkan para pemain dengan perbedaan generasi yang begitu jauh.

“Kalau sampai di titik ini semua lancar. Saya pribadi tertantang banget bekerja sama dengan aktor-aktor hebat semua. Junior-juniornya dan para senior seperti Widyawati dan Slamet Rahardjo menjadi generation gap yang menantang,” kata Monty Tiwa dalam konferensi pers bersama MNC Pictures di Jakarta, Senin (8/7).

Syuting selama 21 hari di Jogjakarta dan berlangsung selama bulan puasa menjadi tantangan bagi para pemain. Monty Tiwa juga banyak belajar dengan para senior selama proses film tersebut digarao.

“Selama syuting tentu terjadi transfer ilmu. Saya menganggap ini film dari semua yang saya bikin adalah salah satu film yang paling banyak angkat fenomena sosial saat ini. Generation gap, lalu masyarakat modern di era digital. Bagaimana orang tua bisa memahami anak lebih mudah dan lainnya,” kata Monty Tiwa.

MNC Pictures sendiri meluncurkan official poster dan trailer film Mahasiswi Baru. Di dalam trailer tersebut terlihat Widyawati berakting seru saat mengikuti kuliah di tengah semua mahasiswi yang masih berusia belasan tahun. Lastri tak canggung belajar di antara milenial karena semangatnya ingin mengemban ilmu.

Adegan-adegan kocak juga ditampilkan ketika Widyawati melewati ospek, melompati pagar, dijemur matahari, dan lainnya. Selain itu uniknya para sineas milenial yang beradu akting dengannya memanggil Lastri yang sudah lansia dengan nama Lastri saja, tampa embel-embel Ibu Lastri atau Oma Lastri.

Masing-masing cast memiliki kesan tersendiri dalam memerankan perannya. Terutama Widyawati yang memiliki peran berbeda dari peran-perannya sebelumnya. Dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (8/7), mereka masing-masing mengungkapkan kesan selama proses syuting dan menjelaskan perannya masing-masing.

Widyawati sebagai Lastri

Perannya sebagai tokoh sentral di film ini menantangnya untuk berakting lebih komedi. Menurutnya film itu cukup menguras fisiknya. Apalagi saat itu sedang berpuasa. Peran Lastri, kata dia, bisa menuntun anak-anak muda untuk semangat belajar bahwa belajar tidak mengenal usia.

“Sesuatu yang baru ya. Kadang-kadang tiba-tiba on the spot sutradaranya minta begini begitu. Ada yang saya enggak bisa, lalu take terus saya ketawa terus. Jadi syutingnya memang menyenangkan di mana saya bermain bersama anak-anak muda. Saya paling tua. Tentu sangat menyenangkan. Meski saya sudah tua dan kendur berharap bisa menghasilkan tontonan yang menjadi tuntunan,” tutup istri Almarhum Sopan Sopian itu.

Slamet Rahardjo sebagai Dekan

Slamet Rahardjo. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

Berperan sebagai Dekan, aktor kawakan ini tentu bersikap tegas kepada seluruh mahasiswanya. Terutama Lastri yang berusia senja. Menurutnya, tak banyak film bertema pendidikan yang mengedukasi masyarakat untuk mau belajar sampai kapanpun. Tak ada batasan usia untuk belajar.

“Saya sehari-hari mengajar. Tentu film pendidikan ini bagus ya. Di dalam film ini Widyawati dan teman-teman muda lainnya mendorong kesadaran bangsa ini akan tenggelam kalau enggak belajar. Walaupun saya berbeda politik sama Umay ternyata kami setuju bahwa Indonesia harus maju. Apalagi di era 4.0 industri saat ini,” tegasnya.

Morgan Oey sebagai Danny

Danny merupakan mahasiswa yang tampan dan disukai banyak perempuan. Uniknya Morgan dibuat sangat anak muda yang diistilahkan dalam bahasa gaul sebagai sosok yang alay.

Morgan Oey. (Dery Ridwansah/JawaPos.com)

“Sangat menyenangkan. Karakter cukup menantang bagi saya sebagai aktor memerankan karakter ini. Menceritakan gimana anak muda saat ini sangat media sosial banget apapun harus didokumentasikan. Rasa solidaritasnya kurang. Dan saya dibikin alay di sini, itu yang susah. Karena aslinya enggak alay,” kata Morgan tertawa.

Mikha Tambayong sebagai Sarah

Mikha mengaku senang dan bangga bisa beradu akting bersama para sineas senior. Dirinya juga salut dengan siapa saja yang tak memandang umur dan tak pernah kendur semangatnya untuk belajar seperti Lastri. Selama proses syuting menurut Mikha, cukup berat menguras fisik apalagi bagi para pemain yang ketika itu sedang berpuasa.

“Project bareng 2 kali dengan Mas Monty Tiwa. Mengesankan banget sih karena syuting saat itu lagi puasa. Mudah-mudahan usaha kerja keras kami bisa terlihat nanti di film ini,” tuturnya.

Sonia Alyssa sebagai Reva

Bagi Sonia, dirinya sangat senang bisa bermain dalam film bergenre komedi apalagi satu peran bersama artis-artis besar. Karakternya di dalam film juga berperan sebagai sahabat Lastri.

“Seneng banget bisa dapat film ini sulut mendeskripsikan perasaan saya. Saya belum pernah dapat peran menantang dan belum banyak pengalaman. Masih baru dalam belajar akting. Senang banget berada di project ini,” jelas Sonia.

Umay Shahab sebagai Erfan

Karakter Erfan juga berperan sebagai teman dan mahasiswa dalam satu geng bersama Lastri. Selama syuting di bulan puasa, Umay merasakan tantangan yang cukup menguras energi. Umay salut dengan film tersebut yang menuangkan semangat Lastri bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar.

“Senang banget pastinya main sama para legend perfilman. Dan serunya karena selama syuting bicara politik, dan punya pandangan politik berbeda sama saya. Makanya saya di-bully habis-habisan, tapi seru banget. Dan saya di film ini harus mengalahkan emosi saya yang takut ketinggian,” kata Umay.

Editor : Nurul Adriyana Salbiah

Reporter : Marieska Harya Virdhani



Close Ads