Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Oktober 2025, 02.41 WIB

GAPKI Perkirakan Implementasi B50 Bakal Kerek Harga CPO Tahun Depan

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan harga crude palm oil atau CPO akan mengalami kenaikan pada tahun depan. (Nanda Prayoga/JawaPos.com) - Image

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan harga crude palm oil atau CPO akan mengalami kenaikan pada tahun depan. (Nanda Prayoga/JawaPos.com)

 

JawaPos.com - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) memproyeksikan harga crude palm oil atau CPO akan mengalami kenaikan pada tahun depan. Hal ini sejalan dengan keinginan pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menerapkan mandatori pencampuran biodiesel 50 persen.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menjelaskan, pelaksanaan B50 akan mendorong permintaan sawit dalam negeri, sehingga harga CPO berpotensi naik.

“Dan itu artinya bahwa itu akan menjadi kenaikan produksi dengan asumsi memang semuanya dalam kondisi normal ya. Normal dalam arti ya semuanya kondusif kan gitu,” kata Eddy dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (28/10).

Dia menjelaskan, pasar akan memberikan respon yang tak pesimis, meskipun terdapat kekhawatiran bahwa B50 akan meningkatkan harga. Dia menilai, implementasi B50 akan memperkuat sisi fundamental sisi industri nasional akibat mendorong penyerapan domestik.

“Pasti akan terjadi sedikit pasar agak kuatir dengan kenaikan B50 itu pasti akan meningkatkan harga. Nah berapa harganya mungkin nanti di IPOC lah kira-kira seperti apa,” jelas dia.

Kemungkinan kenaikan harga ini tentu akan diperkuat jika memang suplai minyak nabati lain seperti minyak kedelai, minyak kelapa, dan lainnya kurang bagus. Terlebih saat ini, CPO bukan satu-satunya bahan yang digunakan untuk penggunaan biodiesel.

Hal ini juga sempat terjadi pada 2024 lalu di mana harga minyak sawit sempat lebih tinggi dibanding minyak nabati lainnya, yang mengakibatkan angka ekspor turun.

“Apa yang terjadi? Nah ini kan ekspor kita juga turun di tahun 2024. Mengapa? Mereka membeli minyak nabati lain yang mereka bisa gantikan.Nah tetapi kemungkinan yang terjadi akan terjadi kenaikan, kenapa kenaikannya nanti kita lihat di IPOC,” tukasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore