
Direktur TBS Energi Utama Juli Oktarina. (Istimewa)
JawaPos.com-Perusahaan energi global semakin agresif melakukan transformasi bisnis menuju sektor yang lebih ramah lingkungan. Langkah ini dianggap penting untuk menghadapi volatilitas harga komoditas sekaligus menyesuaikan diri dengan percepatan transisi energi dunia.
PT TBS Energi Utama Tbk melaporkan kinerja keuangan tahun buku 2025 yang menandai fase penting dalam perjalanan transformasi bisnis perseroan menuju sektor hijau yang lebih berkelanjutan dan berdaya saing internasional.
Direktur TBS Juli Oktarina mengatakan 2025 menjadi periode penting bagi perusahaan untuk menata kembali fondasi bisnis. “Tahun 2025 menjadi tonggak penting dalam perjalanan transformasi TBS,” ujarnya.
Sepanjang 2025, perseroan melakukan penataan ulang portofolio secara menyeluruh sebagai bagian dari langkah strategic repositioning guna memperkuat fondasi keuangan serta membangun struktur bisnis yang lebih resilien.
Juli menjelaskan keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang perusahaan. “Kami melakukan penyesuaian struktural untuk memperkuat fondasi bisnis sekaligus mengakselerasi pertumbuhan di masa depan,” katanya.
Secara operasional, fundamental bisnis TBS pada 2025 tetap menunjukkan ketahanan yang kuat. Perseroan mencatat EBITDA disesuaikan sebesar US$47,2 juta dan menjaga posisi kas pada level sehat sebesar US$102,3 juta atau meningkat 15 persen dibandingkan 2024.
Juli menilai capaian ini menunjukkan bisnis inti perusahaan tetap menghasilkan nilai ekonomi. “EBITDA yang tetap positif menunjukkan bisnis inti kami masih kuat,” ujarnya.
Tonggak strategis lainnya pada 2025 adalah penyelesaian akuisisi Sembcorp Environment yang kini beroperasi dengan nama Cora Environment. Akuisisi ini memperkuat posisi TBS dalam pengelolaan limbah di Singapura serta meningkatkan kapasitas aset untuk mendukung pertumbuhan pendapatan jangka panjang.
Juli mengatakan langkah tersebut menjadi bagian penting dari penguatan portofolio hijau perusahaan. “Akuisisi ini memperkuat posisi kami di sektor pengelolaan limbah,” katanya.
Dari sisi kontribusi pendapatan, segmen pengelolaan limbah memberikan kontribusi sebesar US$155,4 juta atau sekitar 41 persen dari total pendapatan perseroan sepanjang 2025. Dengan komposisi bisnis yang semakin beragam, eksposur terhadap fluktuasi harga batu bara pun semakin berkurang.
Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara mencatat pendapatan sebesar US$194,6 juta atau sekitar 51 persen dari total pendapatan. Angka ini turun signifikan dibandingkan kontribusi 81 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Juli menegaskan penurunan tersebut memang sejalan dengan arah transformasi perusahaan. “Kami secara bertahap menurunkan eksposur terhadap batu bara,” ujarnya.
Meski menghadapi tekanan dari pasar komoditas batu bara global, TBS tetap mencatat EBITDA disesuaikan positif sebesar US$47,2 juta. Namun, perseroan membukukan rugi bersih sebesar US$162 juta pada 2025.
Kerugian tersebut dipengaruhi oleh penurunan harga batu bara dunia sepanjang tahun serta kerugian non-kas yang tidak berulang dari divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) sebesar US$97 juta. Menurut Juli, kerugian tersebut merupakan bagian dari proses transisi bisnis. “Ini merupakan proses transisi satu kali untuk membuka potensi arus kas jangka panjang yang lebih berkualitas,” jelasnya.
