Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Januari 2025, 23.22 WIB

BTN Garap Ritel Fokus Himpun Dana Murah, Didorong Jadi Megabank

Dirut BTN Nixon LP Napitupulu (kiri) dan Menteri BUMN Erick Thohir. (Dok. BTN) - Image

Dirut BTN Nixon LP Napitupulu (kiri) dan Menteri BUMN Erick Thohir. (Dok. BTN)

JawaPos.com–Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mendorong PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menjadi megabank. Bank raksasa dengan ekosistem yang lengkap. Tidak hanya pada sektor perumahan, tapi juga ritel dengan layanan keuangan yang andal.

”Kalau bisa BTN menjadi megabank, yang bisa memberikan solusi perumahan dan ekosistemnya, saya rasa itu akan jadi proposisi yang menarik di masyarakat,” ucap Menteri BUMN Erick Thohir dalam rapat kerja BTN 2025 di Jakarta, akhir pekan lalu.

Ada tiga prioritas BTN dalam melakoni strategi bisnis ke depan. Yakni membangun kepercayaan, memberikan solusi, dan ekosistem. Mengingat, banyak bank yang hanya menjual produknya, namun belum tentu memberikan solusi.

Mengenai ekosistem, Erick meminta BTN menjajaki kerja sama dengan bank pembangunan daerah (BPD) yang memiliki basis nasabah aparatur sipil negara (ASN). Sejalan dengan keperluan memerlukan pengelolaan gaji, membayar sekolah anak, dan kebutuhan hunian melalui kredit pemilikan rumah (KPR).

”Bisa bekerja sama dengan bank-bank daerah, seperti di Solo atau Banten, kita coba bisa back up. Sebagai nank kita tidak bisa berdiri sebagai menara gading tapi juga menjadi agregator," ujar Erick.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan, visi baru untuk menjadi mitra utama dalam pemberdayaan finansial keluarga Indonesia. Berupaya untuk menjadi bank yang beyond mortgage. Tidak hanya sekadar melayani KPR.

”Jadi ada rumah, ada keluarga, tapi tidak cuma soal KPR. Tapi bagaimana mereka bayar listrik, bayar air, bayar sekolah juga di BTN. Setelah rumah terbentuk, kita melayani semua yang dibutuhkan oleh keluarga,” jelas Nixon.

Nixon bertekad untuk memperkuat mesin tabungan yang berkelanjutan (engine for sustainable funding). Sebab, pendanaan di industri perbankan saat ini tengah ketat. Sehingga membuat likuiditas mahal.

Dia mengungkapkan, cost of fund (biaya dana) BTN paling tinggi di antara bank-bank milik negara (Himbara). ”Pelan-pelan kita menarik biaya dana agar turun, tapi masih kurang cepat. Jadi banyak inisiatif yang akan kita lakukan di banyak area, seperti digitalisasi, services, dan funding,” imbuh Nixon.

Strategi ke depan, BTN dapat meningkatkan proporsi dana murah alias current account saving account (CASA) menjadi lebih dari 54 persen. Dengan menggenjot perolehan dana ritel, salah satunya melalui transformasi digital.

Bank spesialis perumahan itu berencana memperbanyak perubahan terhadap kantor cabang menjadi digital store. Menggabungkan fungsi teller dan customer service. Dengan begitu akan meningkatkan efisiensi dan memodernisasi proses bisnis.

”Semoga ini mengubah wajah BTN yang dianggap ketinggalan dalam hal digitalisasi, mengubah pandangan masyarakat terhadap image BTN sehingga ada keberlanjutan dalam perolehan dana masyarakat,” ujar Nixon. 

Nixon berharap, aset BTN dapat menembus Rp 500 triliun tahun ini. Mengingat, total aset telah mencapai Rp 470 triliun. Terutama didorong program tiga juta rumah.

”Saat ini BTN mencatat ada 632 ribu unit di management stock. Semoga angka ini bisa membantu merealisasikan program pemerintah,” tandas Nixon.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada November 2024 tercatat sebesar Rp 8.534,8 triliun dengan pertumbuhan tahunan mencapai 6,3 persen. Angka ini menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat tumbuh 6 persen year-on-year (YoY). Peningkatan ini terutama didorong pertumbuhan DPK dari golongan nasabah korporasi yang mencatatkan angka signifikan.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore