Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Desember 2023, 16.58 WIB

Produsen Obat Herbal Incar Pasar Degeneratif

PERLUAS JARINGAN: Product Director Aafiyah Herbal Ray Asmoro dan Apoteker Fradita Ramadhini Nurindah saat mengenalkan produk herbal di Pabrik Herbacore Wringinanom Gresik. - Image

PERLUAS JARINGAN: Product Director Aafiyah Herbal Ray Asmoro dan Apoteker Fradita Ramadhini Nurindah saat mengenalkan produk herbal di Pabrik Herbacore Wringinanom Gresik.

JawaPos.com - Pelaku industri obat herbal di Indonesia terus berupaya untuk menggarap potensi yang ada. Produsen obat herbal berupaya menggarap pasar retail di Jatim. Untuk itu, mereka berupaya memperluas jaringan melalui komunitas.

Product Director Aafiyah Herbal Ray Asmoro mengatakan, Indonesia mempunyai masalah kesehatan yang besar. Terutama, terkait penyakit degeneratif. Penyakit tersebut biasanya terjadi karena penurunan fungsi atau kerusakan struktur tubuh yang terjadi secara bertahap. 

’’Biasanya, kalau usia seseorang mencapai 40 tahun, mereka pasti punya salah satu atau bahkan beberapa penyakit degeneratif,’’ ungkapnya saat peluncuran Aafiyah Herbal di Gresik pekan lalu.

Dia mencontohkan pengidap kolesterol tinggi yang mencapai 35 persen dari populasi Indonesia. Atau, 60 juta penduduk Indonesia yang terdiagnosis hipertensi. Bahkan, peringkat Indonesia sebagai negara dengan populasi pasien diabetes terbesar di dunia mencapai lima besar.

Obat herbal, lanjut dia, menjadi salah satu solusi untuk penyakit degeneratif tersebut. Mereka mengatakan produk-produk tradisional berfungsi untuk memperbaiki organ yang terganggu.

’’Memang prosesnya cukup memakan waktu. Itu karena pemulihan fungsi organ tak bisa seminggu dua minggu saja,’’ paparnya.

Karena itu, pihaknya meluncurkan enam produk untuk mengincar potensi tersebut. Yakni, kolesterol, hipertensi, Gerd, Diabetes, Asam Urat, dan Kanker. Pihaknya mengaku sudah melakukan uji coba untuk mengetes efek terhadap pengidap penyakit tersebut.

Selain itu, pihaknya pun berupaya untuk mencapai standar tinggi. Misalnya, sertifikasi Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Dia mengatakan dari 1.200 pabrik obat tradisional yang ada di Indonesia, pabrik yang sudah mendapatkan sertifikat tersebut hanya sekitar 50 saja.

’’Kami sudah siapkan semua. Termasuk sertifikat HACCP jika produk kami harus diekspor,’’ ungkapnya.

Soal pemasaran, dia mengaku lebih fokus untuk menggandeng komunitas dengan model bisnis agen reseller. Menurutnya, cara ini lebih efisien dibandingkan dengan pemasaran massal ke pertokoan dan apotek. 

Hal tersebut karena pasar obat herbal biasanya lebih banyak untuk lingkup keluarga. Karena itu, pihaknya justru menggandeng praktisi pengobatan tradisional seperti bekam dan pijat tradisional untuk menjadi agen reseller-nya.

  ’’Kami juga mengincar komunitas-komunitas lain seperti pengajian untuk menjadi agen kami. Saat ini, kami sudah mendapatkan 100 agen dan sebagian besar memang di Jatim,’’ ungkapnya. 

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore