Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 16 Oktober 2026 | 22.23 WIB

Hadapi Asap Karhutla, Anak Batuk Tiap Hari dan Terisolasi di Rumah

Kabut asap dampak karhutla menyelimuti sekolah dasar di Kabupaten Kotawaringin timur, Kalimantan Tengah. (Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com) - Image

Kabut asap dampak karhutla menyelimuti sekolah dasar di Kabupaten Kotawaringin timur, Kalimantan Tengah. (Agus Pramono/kaltengpos.jawapos.com)

JawaPos.com - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan membuat para ibu khawatir terhadap kesehatan anak-anak mereka. Monica, salah satunya, mengaku anaknya kini mengalami batuk hampir setiap hari, bahkan sampai muntah pada malam hari.

“Setelah kabut asap itu setiap hari pasti kayak ada batuk. Batuknya itu tuh seketika itu tiba-tiba aja. Terus pasti kalau setiap malam, sebelum tidur, bahkan subuh-subuh bangun tuh pasti ada batuk-batuk,” kata Monica dikutip dari Instagram Youth Act Kalimantan, Jumat (16/10).

Monica mengatakan, sebelum kabut asap menyelimuti wilayah tempat tinggalnya, anaknya tidak pernah mengalami batuk hingga muntah seperti sekarang. Kondisi tersebut membuatnya semakin cemas karena batuk juga kerap muncul pada malam hari.

“Nah ini setiap sebelum kabut asap dia enggak pernah kayak batuk-batuk dan muntah-muntah. Tapi kalau misalnya udah malam tuh dia batuk-batuk sampai muntah,” tuturnya.

Kekhawatiran serupa dirasakan Krista Adelia yang memiliki anak kecil dan sedang hamil. Kondisi itu membuatnya semakin memperhatikan kesehatan keluarga, terutama di tengah kabut asap yang semakin pekat.

“Jadi setiap harinya tentunya kita khawatir, ‘Aduh anak saya ini jangan-jangan nanti kena apa pneumonia, apa bronkitis, gara-gara kabut asap yang semakin hari semakin pekat’,” tuturnya.

Menurut Krista, anak-anak masih berada dalam tahap perkembangan sehingga ia merasa perlu lebih waspada terhadap dampak paparan asap. Ia khawatir kondisi udara yang buruk dapat mengganggu kesehatan anaknya.

Sementara itu, Shelvie menceritakan anaknya sempat mengalami pneumonia pada awal kabut asap. Anaknya bahkan harus dibawa ke klinik untuk mendapatkan penanganan.

“Pertama tuh di awal kabut asap malah anakku sempat kena pneumonia, sempat ke klinik, dan selama dua bulan ini di rumah enggak pernah ke mana-mana, bener-bener literally enggak keluar rumah sama sekali,” kata Shelvie.

Selama dua bulan, Shelvie memilih membatasi aktivitas anaknya di luar rumah. Situasi tersebut membuat keluarga harus menyesuaikan kegiatan sehari-hari demi mengurangi paparan kabut asap.

Editor: Nurul Adriyana Salbiah
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore