Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 14 Mei 2023 | 16.10 WIB

Pameran Tunggal Whani Darmawan: Mengikuti Intuisi dan Kebebasan Memberi Judul

BEBAS BEREKSPRESI: Aktor yang mulai melukis dua tahun lalu, Whani Darmawan, menggelar pameran tunggal bertajuk Anuning Ning di Bantul.

Aktor film dan teater sekaligus penulis buku Whani Darmawan menghelat pameran tunggal. Bertajuk Anuning Ning, pameran itu berlangsung mulai 14 April hingga 7 Mei di area Jiwajawi, Kasihan, Bantul, Jogjakarta.

BARANGKALI Whani adalah satu di antara banyak pelukis yang mengedepankan intuisi. Saat proses kreatif berlangsung, pemeran Darsam dalam film Bumi Manusia itu tidak memiliki konsep maupun rencana hendak melukis apa. Terjadi begitu saja.

”Saya lebih menyukai apa yang Anda bilang sebagai kebebasan, mengikuti intuisi. Bukan mengikuti logika, bukan mengikuti logika secara terperinci, rencana by rencana, gak,” ujar Whani.

Alumnus Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja itu menyebut dirinya sebagai perupa otodidak. Dia tidak mengenyam pendidikan seni rupa secara formal dan tidak berangkat dari latihan bentuk satu dan lainnya secara terus-menerus.

Namun, hal ini justru menarik. Misalnya, saat Whani beride melukis bunga bangkai. Namun, Whani malah menggambar ayam tarung dan di belakangnya ada tulisan Bhinneka Tunggal Ika. Menurut dia, hal itu sah-sah saja, tidak salah.

”Tidak berangkat dari latihan bentuk sehingga intuisi yang saya gunakan. Mau bikin ini, kok ke sana, ya gak papa, tak ikuti terus. Tapi, sungguh-sungguh sejak awal mula ’aku tak nggambar ini’, enggak,” jelas pria yang mulai melukis pada 2021 tersebut.

Dalam proses mewujudkan intuisi ke media lukis, Whani menjadikan estetika sebagai sebuah ukuran. Pada titik tertentu, ketika merasa unsur estetika sudah terpenuhi, dia berhenti dan lukisannya dianggap selesai.

”Hanya meneruskan intuisi, cipratan tinta, goresan, hanya mengukur dari sudut estetika. Oh ini sudah selesai, oh ini bikin hitam lagi, oh ini lebih terang. Hanya seperti itu,” papar Whani.

Karena tidak terkonsep dan terencana, lukisan yang tercipta sebetulnya tanpa judul. Namun, karena setiap karyanya dipamerkan, Whani berupaya memberi judul.

Meski begitu, Whani terus mempertanyakan seberapa penting judul pada sebuah lukisan. Dan, kenapa harus ada judul. Menurut dia, setiap orang memiliki interpretasi berbeda pada apa yang ditangkap secara visual.

”Judul justru berpotensi menggiring interpretasi itu. Semacam memaksa untuk memaknai sesuatu sesuai dengan judul yang telah ditentukan. Pada setiap lukisan, pasti ada pemirsa berbeda. Tiga pemirsa menilai saja sudah berbeda. Setiap orang boleh memberikan judul atas itu,” papar peraih Piala Citra FFI 2019 sebagai Aktor Pembantu Terbaik pada film Kucumbu Tubuh Indahku tersebut.

Lebih lanjut, Whani menyatakan bahwa lukisan tanpa judul yang diinterpretasikan sama oleh sejumlah orang akan sangat menarik. Artinya, ada kesepakatan yang terwujud dengan sendirinya. Tanpa embel-embel judul. Hal ini menunjukkan ada sedikit banyak kesamaan persepsi dan pengalaman empiris dalam diri mereka.

POKOKNYA JEPRET: Sejumlah pengunjung pameran mengabadikan karya Whani melalui kamera ponselnya.

”Misal, dalam (lukisan, Red) Alien, orang melihat, ’Lho ini kayak alien.’ Bagaimana dua orang menyepakati komunikasi itu. Pasti jenisnya (karakter orangnya) sama,” jelas Whani.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore