
SAMBUT TAMU: Ruang tamu dan interior pendapa yang sangat kental dengan detail bernuansa Jawa. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)
Hunian masa kini kerap mengeliminasi ruang tamu. Alasannya, masyarakat modern cenderung melupakan budaya bertamu. Bagaimana jika kita mulai mempertahankan budaya tersebut dengan menghadirkan pendapa dalam hunian?
PENDAPA adalah bagian dari rumah adat Jawa. Letaknya di muka rumah. Biasanya, pendapa digunakan untuk aktivitas yang bersifat publik dan terbuka. ’’Pendapa itu sebetulnya tidak punya sekat ruang. Istilahnya los gitu. Jadi, pendapa cocok sebagai area publik,’’ kata Gayuh Budi Utomo, arsitek asal Surabaya.
Pendapa juga kerap diadaptasi ke dalam bangunan hotel, restoran, atau area komersial lainnya. Di rumah, pendapa bisa dijadikan sebagai area penerimaan tamu.
Misalnya, dalam rumah Subiyono di kawasan Surabaya Utara. Rumah itu sejak awal memiliki bangunan yang terpisah-pisah. Area privat dan publik berada di dua bangunan yang berbeda, tetapi masih dalam satu lahan. ’’Saya ingin merasakan suasana seperti di vila meski rumah ini terletak di tengah kota yang padat. Karena itulah, dibuat bangunan yang terpisah-pisah,’’ terang Subiyono.
Satu yang paling menarik di antara bangunan bertema modern minimalis tersebut adalah pendapanya. Letaknya di depan bangunan utama dekat dengan gerbang depan. Jadi, tamu selain keluarga tidak perlu sampai masuk ke area privat di bangunan utama.
Photo
JAWA BANGET: Bahan utama pendapa biasanya kayu jati. Jika motif serat kayunya cantik, finishing-nya dengan warna terang. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)
Bangunan pendapa yang terbuat dari kayu jati tua itu memiliki ukiran Jepara pada seluruh dindingnya. Subiyono memang menyukai ukiran dan elemen-elemen lain khas Jawa. Bahkan, bagian dalamnya dilengkapi lemari dan meja dengan ukiran yang senada.
Photo
JAWA BANGET: Banyak sekali detail ukiran Jawa di pendapa kediaman Subiyono, bahkan hingga ke bagian plafon dan pilar. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)
Ukiran sangat mendetail hingga bagian plafon tempat lampu gantung dan pilar-pilar pendapa. Serta dihias dengan piring hias dengan motif kuno. Subiyono kemudian menunjuk Gayuh untuk ’’menghidupkan’’ pendapa tersebut dengan menambahkan teras. ’’Aslinya sudah ada teras di pendapa, tapi ya hanya polos. Nah, kami upayakan supaya lebih indah,’’ ujar arsitek yang identik dengan desain arsitektur tradisional Jawa tersebut.
Gayuh lantas merancang teras yang lebih berwarna dan berkesan hangat. Dipasanglah tegel motif dengan perpaduan warna biru dan kuning cerah yang menghidupkan suasana. Tegel khas Jawa Tengah itu memang menjadi paduan paling pas dengan ukiran Jepara yang cantik.
Photo
PENYEGAR: Kolam renang yang terletak di bagian depan. Di seberangnya ada terasa yang membuat pendapat memiliki orientasi baru. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)
Gayuh menciptakan orientasi baru pendapa tersebut lewat teras. Yakni, menghadapkan teras ke arah kolam renang. ’’Supaya kolam renang punya manfaat menyegarkan mata,’’ terangnya.
Teras itu sukses membuat suasana pendapa terkesan lebih welcome. Gayuh berharap tamu yang datang merasa santai dan tidak sungkan. Serta mengembalikan lagi budaya berkunjung ke rumah untuk mempererat tali silaturahmi. ’’Sekarang orang lebih suka duduk di teras mal atau kafe daripada di teras rumah. Itu kebudayaan yang mulai punah. Kalau terjadi, itu menjadi kemewahan menurut saya,’’ tandasnya.
Photo
GERBANG: Menyesuaikan konsep rumah, gate yang menjadi akses masuk kali pertama pun dibuat ala regol. (ANGGER BONDAN/JAWA POS)
Photo
(ANGGER BONDAN/JAWA POS)
Kursi Sedan
Kursi ini biasa disebut kursi jengki atau kursi sedan. Gayuh menyatakan disebut kursi sedan karena pada zaman dulu kursi tersebut dibuat dari busa spons yang ada pirnya, mirip kursi mobil sedan. Masyarakat kemudian memodifikasinya dengan bahan rotan. Misalnya, yang ada di teras pendapa Subiyono.
Tegel Motif
Tegel tradisional ini banyak diproduksi di Jawa Tengah. Namun, kini di kota lain pun sudah ada. Termasuk Surabaya. Bahkan bisa pesan sesuai keinginan. Untuk proyek teras pendapa, Gayuh memesan warna biru dan kuning. Menurut dia, lantai tegel lebih awet. Cocok untuk area indoor karena tidak boleh terkena air terus-menerus.
