Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Agustus 2025, 02.19 WIB

Banyak Digemari Anak Muda di Dunia, Ternyata Video Pendek Rentan Berisi Hoaks dan Disinformasi

ILUSTRASI: Brainout. (Freepik) - Image

ILUSTRASI: Brainout. (Freepik)

JawaPos.com - Dalam dekade terakhir, cara manusia mengonsumsi informasi telah berubah secara fundamental. Hal itu dipengaruhi oleh platform video pendek seperti TikTok maupun Shorts pada Youtube. Dominasi video berdurasi pendek ini menimbulkan kekhawatiran besar, mulai dari dampak sosial hingga isu geopolitik. 

Dilansir The Interpreter dalam Lowy Institute, platform video pendek seperti TikTok dianggap bukan hanya sekadar aplikasi hiburan, tetapi juga sebagai ancaman geopolitik. Pemerintah di Amerika Serikat dan Eropa khawatir bahwa data pengguna dapat disadap oleh pemerintah Tiongkok dan digunakan untuk kepentingan intelijen. Kekhawatiran ini telah memicu tekanan politik yang meningkat dan perdebatan tentang larangan total platform di beberapa negara. 

Selain isu geopolitik, dampak sosial yang serius dari kehadiran video pendek, baik dari TikTok maupun Short di Youtube. Para ahli khawatir bahwa konten yang sangat singkat dan cepat dapat merusak rentang perhatian (attention span) penggunanya, terutama generasi muda. 

Paparan terus-menerus pada konten yang memicu "lonjakan" emosional ini dapat melemahkan kemampuan seseorang untuk fokus pada tugas yang lebih kompleks dan membutuhkan pemikiran mendalam.  

Penelitian menunjukkan otak menjadi terbiasa dengan gratifikasi instan, sehingga kehilangan kesabaran untuk konten yang lebih lambat atau menantang secara kognitif. Atau yang biasa disebut brainrot. 

Begitu juga dengan lanskap digital telah menjadi medan pertempuran bagi para politisi untuk memenangkan suara pemilih muda. Namun, di saat yang sama penyebaran disinformasi dan hoaks melalui format video pendek yang cepat menyebar menjadi masalah serius yang dapat memengaruhi opini publik dan bahkan hasil pemilu. 

Sementara itu, penelitian "Intentional news avoidance on short-form video platforms: a moderated mediation model of psychological reactance and relative entertainment motivation" yang dilansir nature.com menganalisis lebih dalam mengenai perilaku pengguna. 

Berdasarkan studi terhadap 523 pengguna aktif Douyin (versi Tiongkok dari TikTok), ditemukan bahwa individu memiliki kecenderungan untuk melakukan penghindaran berita yang disengaja (intentional news avoidance). 

Penelitian ini menjelaskan penghindaran berita dipicu oleh reaktansi psikologis atau sebuah respons negatif yang muncul ketika pengguna merasa kebebasan mereka untuk memilih konten terancam oleh algoritma. Ketika algoritma mendorong konten berita yang dianggap berkualitas rendah, tidak relevan, atau tidak sesuai dengan preferensi mereka, pengguna akan merasa terganggu. Hal ini memicu keinginan untuk menolak dan menghindari berita tersebut. 

Studi itu juga menemukan bahwa motivasi hiburan relatif (relative entertainment motivation) memainkan peran penting. Pengguna dengan motivasi hiburan yang lebih tinggi daripada motivasi mencari informasi akan menunjukkan reaktansi psikologis yang lebih kuat terhadap berita yang tidak diinginkan dan cenderung lebih aktif menghindari konten berita. Namun, penelitian ini juga mengindikasikan bahwa jika kualitas berita dianggap tinggi, reaktansi psikologis dan penghindaran berita dapat berkurang, terutama bagi mereka yang memiliki motivasi hiburan tinggi. 

Terlepas dari kekhawatiran yang ada, TikTok telah menjadi alat yang kuat untuk gerakan sosial, memungkinkan kaum muda di seluruh dunia untuk menyuarakan protes dan mengampanyekan isu-isu penting. 

Di satu sisi, video pendek menawarkan kemudahan akses informasi dan hiburan, tetapi juga membawa risiko besar terhadap keamanan, kognisi, kesehatan mental, dan kualitas diskursus publik.  

Pertanyaan yang muncul bukanlah apakah platform ini akan bertahan, tetapi bagaimana masyarakat akan menyesuaikan diri dengan kenyataan di mana perhatian adalah komoditas paling berharga dan bagaimana kita dapat memitigasi dampak negatifnya.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore