Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 14 Oktober 2026 | 19.59 WIB

Adopsi AI Meningkat, Perusahaan Indonesia Dibayangi Risiko Data dan Keamanan Siber

Ilustrasi risiko teknologi AI. (ACEC). - Image

Ilustrasi risiko teknologi AI. (ACEC).

JawaPos.com - Meningkatnya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di dunia bisnis membawa tantangan baru bagi perusahaan di Indonesia, mulai dari lonjakan volume data, pembengkakan kebutuhan penyimpanan, hingga risiko kebocoran informasi dan serangan siber.

Data Synology mengklaim, hampir 88 persen responden di Indonesia mengkhawatirkan inefisiensi penyimpanan akibat pertumbuhan data AI dan duplikasi data.

Sementara itu, hanya sekitar dua dari 10 perusahaan yang sangat yakin mampu memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware sekaligus menjaga keamanan data cadangan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa adopsi AI perlu diimbangi kesiapan infrastruktur dan sistem keamanan. Tanpa pengelolaan yang memadai, peningkatan produktivitas berkat AI berpotensi diikuti biaya penyimpanan yang lebih besar dan risiko gangguan operasional.

“AI semakin banyak digunakan dalam operasional bisnis, mulai dari pengelolaan data hingga kolaborasi tim,” ujar Clara Hsu, Indonesia Country Manager Synology, dalam acara Synology Press Event 2026 di Jakarta, Selasa (13/10).

“Namun, penerapan AI perlu didukung infrastruktur yang mampu mengimbangi pertumbuhan data, sistem perlindungan yang andal, serta teknologi yang benar-benar membantu meningkatkan produktivitas perusahaan,” lanjutnya.

Lonjakan Data dan Risiko Keamanan

Salah satu dampak penggunaan AI adalah meningkatnya kebutuhan penyimpanan data. Dokumen, gambar, video, dan berbagai hasil pemrosesan AI menambah beban infrastruktur teknologi informasi perusahaan.

Kondisi ini membuat penambahan kapasitas penyimpanan saja tidak cukup. Perusahaan juga perlu mengurangi duplikasi data, menjaga performa sistem, dan mengendalikan biaya pengelolaan.

Ancaman lain datang dari serangan ransomware yang dapat mengenkripsi atau mengunci akses terhadap data perusahaan. Sistem pencadangan yang terhubung dengan jaringan utama pun berisiko ikut terdampak ketika serangan terjadi.

Karena itu, perusahaan perlu memiliki salinan data yang terpisah dan terlindungi, serta menguji pemulihan secara berkala. Keberadaan backup tidak menjamin operasional dapat segera pulih apabila data cadangan rusak atau tidak bisa diakses.

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore