
Nurdin Halid memberikan pandangannya terkain pemecatan STY dari Timnas Indonesia. (Instagram/nh_nurdinhalid)
JawaPos.com - Kamis (9/1) malam, di sebuah acara televisi yang membahas pelatih baru Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, ex ketum PSSI, Nurdin Halid melontarkan komentar kontroversial. Nurdin Halid mempertanyakan apa yang membanggakan dari STY.
"Apa yang membanggakan dari Shin Tae-yong? apa karena meloloskan U-23 ke semifinal? menurutnya lebih membanggakan pada Piala Asia 2007, tanpa diaspora dan naturalisasi selisih gol lebih bagus daripada saat Piala Asia 2023 saat sudah memakai pemain diaspora dan naturalisasi," ungkapnya.
Mantan ketua umum PSSI periode 2003-2011 ini membanggakan saat Timnas Indonesia di Piala Asia 2007. Ia menambahkan bahwa 2007 menang melawan Bahrain sedangkan 2023 hanya bisa menang melawan Vietnam. Jika ada peringkat tiga terbaik di 2007 bisa saja lolos ke babak selanjutnya.
"2007 kita menang melawan Bahrain, kalah 2-1 dengan Arab Saudi hampir imbang, kalau imbang bisa lolos. Saat 2007 bisa saja lolos jika ada peringkat tiga terbaik, di 2023 bisa lolos ke 16 besar juga karena ada peringkat tiga terbaik. Jadi dimana prestasi membanggakan dari Shin Tae-yong?" ungkap pria 66 tahun itu.
Saat ditanya tentang mengapa Federasi memilih pelatih asal Belanda untuk menggantikan posisi Shin Tae-yong.
"Ini merupakan sebuah keputusan tepat dari federasi, walaupun ada sedikit gambling walaupun demikian, PSSI tentu sudah memikirkan itu semua dengan matang hingga terjadinya keputusan ini," ungkap mantan Ketua Umum PSSI dua periode tersebut.
Lebih lanjut, Nurdin Halid mengungkapkan bahwa gaya kepelatihan dan taktik Coach Shin tidak cocok dengan para pemain Timnas Indonesia saat ini yang sudah banyak pemain diaspora.
"Kultur gaya kepelatihan Shin Tae-yong tidak cocok dengan pemain Timnas saat ini yang 80% pemain diaspora yang sudah dikenalkan dengan gaya bermain total football ala Johan Cruyff," ungkap Nurdin Halid lebih lanjut.
Setelahnya, ia mengungkapkan bahwa bisa meraih hasil imbang dengan Australia merupakan faktor luck karena tidak ada bola yang masuk ke gawang dan kita hanya bermain bertahan total.
Menurutnya, seorang pelatih haruslah bisa memahami tiap-tiap individu pemain yang diasuhnya. Jika memang pelatih tidak bisa memahami tiap individu itu akan menjadi suatu hal yang sulit untuk mendapatkan apa yang pelatih inginkan.
Nurdin menjelaskan saat menjabat sebagai ketua umum Federasi, pelatih asing dua tahun sudah mengerti bahasa Indonesia. Sedangkan, STY harus memakai empat orang penerjemah untuk mengerti.
"Saat sudah berjalannya pertandingan dan ingin memberi instruksi tambahan, akan repot karena harus mencari penerjemah dan belum tentu apa yang ingin disampaikan STY bisa tersampaikan dengan baik oleh penerjemah,"
Terakhir, ia menjelaskan saat itu Piala AFF ada tujuh pemain yang mendatanginya dan meminta ia untuk mengganti pelatih.
"Pada saat Piala AFF, sebelum melawan Vietnam ada dinamika, tujuh pemain menghadap ke saya sebagai manajer dan meminta untuk ganti pelatih. Saya turuti untuk ganti pelatih dan akhirnya menang melawan Vietnam dan sampai ke final menghadapi Thailand," tutup pria yang saat menjabat sebagai ketua umum PSSI dari balik jeruji besi atas dugaan penyimpangan dana Bulog.
