Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 Oktober 2025, 15.56 WIB

Xavi Hernandez: Dua Kali Hampir ke Serie A, Tapi Hati Selalu untuk Barcelona

Xavi Hernandez. (Istimewa) - Image

Xavi Hernandez. (Istimewa)

JawaPos.com - Xavi Hernandez mengenang dua kesempatan langka dalam kariernya, saat ia nyaris meninggalkan Barcelona menuju Serie A. Namun, dua dekade kemudian, legenda Blaugrana itu menegaskan bahwa pilihannya untuk bertahan adalah bagian dari takdir yang membentuk dirinya hari ini.

Dalam wawancara bersama Cronache di Spogliatoio, Xavi mengungkapkan bahwa ia pernah berada di ambang kepindahan ke AC Milan dan Inter Milan, bahkan sempat menarik perhatian Bayern Munchen. Sang gelandang yang kini berusia 44 tahun itu dikenal sebagai simbol kesetiaan dan arsitek dari salah satu era terbaik dalam sejarah sepak bola modern.

“Saya sedang bernegosiasi dengan Galliani, dia bahkan datang ke Barcelona bersama ayah saya tak lama setelah kemenangan kami di Piala Dunia U-20 di Nigeria pada tahun 1999. Di Barca, timnya praktis sudah lengkap. Saya punya kesempatan untuk pergi, tetapi saya tidak menyukainya,” kata Xavi.

Tawaran pertama datang dari AC Milan ketika Xavi baru berusia 19 tahun. Adriano Galliani, sosok berpengaruh di balik kesuksesan Rossoneri pada masa itu, datang langsung ke Barcelona. Namun Xavi muda memilih untuk tetap bertahan di klub masa kecilnya, keputusan yang belakangan terbukti krusial.

Kesempatan kedua datang satu dekade kemudian, pada tahun 2008, masa-masa ketika Barcelona tengah menghadapi ketidakpastian sebelum era Pep Guardiola dimulai. Saat itu, nama Xavi dikaitkan dengan dua klub besar Eropa, Bayern Munich dan Inter Milan.

“Saya punya pilihan untuk pergi ke Bayern Munich atau Inter. Tetapi prioritas saya selalu Barca. Memang benar bahwa di masa-masa sulit, dengan banyak kritik, mereka mengkritik saya karena menjadi gelandang tengah. Saya sempat berpikir untuk pergi, tetapi hati saya selalu ingin tetap di Barcelona,” ujarnya.

Pilihan itu akhirnya membentuk warisan yang bertahan, bersama Guardiola, Xavi menjadi pusat permainan yang membawa Barcelona meraih kejayaan di pentas Eropa. Ia mewakili gaya bermain tiki-taka yang menjadi simbol sepak bola modern.

Namun Xavi tak hanya bicara soal masa lalu. Ia juga menyinggung masa depan, dan sosok muda yang ia percayai bisa meneruskan warisan tersebut: Lamine Yamal, pemain remaja yang dilatih langsung olehnya pada musim 2023.

“Dia pemain ‘terpilih’, dia bisa menjadi salah satu jenius dalam sejarah sepak bola, itu tergantung padanya dan ambisinya, hasratnya. Pada usia 15 atau 16 tahun, dia menggiring bola seperti seorang profesional, dan bahkan dalam latihan, di dalam skuad, kami sering bertanya-tanya siapa yang terbaik, dan hampir setiap hari, atau hampir setiap hari, itu adalah dia. Dia melakukan hal-hal istimewa, hal-hal yang hanya Anda lihat dari Neymar, Messi, pemain sekaliber itu. Saya melihat dia siap dan saya tidak takut. Dia juga tidak takut. Dia tidak memiliki rasa takut, dia bisa membuat perbedaan. Apa yang dia lakukan di usianya sungguh luar biasa,” ujar Xavi.

Xavi kini tetap menjadi figur penting di Barcelona, Xavi juga pernah mengarsiteki Barca di tepi lapangan sebagai pelatih. Ceritanya adalah kisah tentang kesetiaan yang jarang ditemukan di sepak bola modern, dua kali hampir meninggalkan klub, namun dua kali pula memilih bertahan demi keyakinan dan cinta terhadap warna yang membesarkannya.

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore