
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu
JawaPos.com - Sebanyak 92 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) digandeng Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk menyelenggarakan program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-IV bagi guru Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar. Tidak hanya menjawab kebutuhan guru, program ini juga menjadi bagian dari upaya strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Sebagai tahap awal, program ini menyasar kepada 12.500 guru TK dan SD yang belum memiliki gelar sarjana. Mereka akan difasilitasi untuk difasilitasi melalui program ini guna melanjutkan studi di LPTK penyelenggara yang telah melaksanakan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Direktorat Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru (GTKPG).
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan, dalam peningkatan kompetensi guru menjadi salah satu program prioritas kementerian yang diasuhnya. Hal ini sejalan dengan Asta Cita poin ke-4, yaitu memperkuat pembangunan sumber daya manusia.
Dengan semakin banyak guru yang berpendidikan tinggi, diharapkan kualitas pembelajaran di ruang kelas juga meningkat signifikan. Sehingga dapat berdampak langsung dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan menyiapkan generasi muda yang kompeten serta berkarakter.
"Guru adalah ujung tombak pendidikan. Dengan peningkatan kualifikasi dan kompetensi, kita menyiapkan generasi muda Indonesia yang lebih siap menghadapi masa depan," ujarnya dalam keterangan resminya Sabtu (13/9).
Selain itu, program ini diharapkan pula menjadi sarana afirmasi bagi guru-guru di daerah terpencil maupun yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan. Menurutnya, melalui kerja sama dengan LPTK di berbagai wilayah, pemerintah ingin memastikan tidak ada guru yang tertinggal dalam kesempatan untuk mengembangkan diri.
Dalam laporannya, Dirjen GTKPG, Kemendikdasmen, Nunuk Suryani mengungkapkan, bahwa berdasarkan data di Data Pokok Pendidikan (Dapodik), diketahui masih ada lebih dari 233 ribu guru yang belum memenuhi kualifikasi S-1/D-IV. Mereka nantinya menjadi sasaran prioritas dari program Pemenuhan Kualifikasi Akademik S-1/D-IV.
Nantinya, dalam mengikuti program ini, para guru akan tetap bisa mengajar. Sebab, perkuliahan akan dilaksanakan dalam bentuk daring. Selain itu, yang kalah penting, pengalaman para guru dalam mengajar belasan hingga puluhan tahun akan direkognisi menjadi satuan kredit semester (SKS).
"Melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), guru tetap dapat mengajar sambil kuliah," tuturnya.
Menurutnya, ini merupakan bentuk afirmasi nyata bagi para guru agar bisa melanjutkan pendidikan tinggi tanpa meninggalkan kewajibannya di sekolah. “Pemerintah juga menyiapkan bantuan biaya pendidikan hingga Rp 3 juta per orang untuk tiap semester,” sambungnya.
Menutup laporannya, Nunuk menyampaikan harapan besar terhadap keberlanjutan program ini. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah, LPTK, dan para guru maka pendidikan Indonesia diyakini akan semakin maju.
Asep Dadang Supriyadi, salah satu guru yang mendapatkan kesempatan mengikuti program ini mengaku sangat senang karena bisa meneruskan pendidikannya. Disadari olehnya, masih ada kekurangan pengetahuan terkait pendidikan anak usia dini namun keterbatasan ekonomi membuatnya sulit melanjutkan studi ke jenjang sarjana.
"Sempat terpikir untuk mendaftar program ini akan mengeluarkan biaya dan menyita waktu saya. Tapi ternyata sebaliknya, sangat mudah melalui aplikasi yang telah disediakan," ungkap guru TK PGRI 2 Cihara, Lebak, Banten tersebut.
Senada, Erin Riana Dewi, Guru SD 02 Katulampa, Bogor, sangat bersyukur karena program ini memberinya kesempatan untuk bisa belajar lagi. Hal ini mendukung tekadnya untuk mengabdi dan memajukan sekolah tempat ia dulu menimba ilmu.
