
Menhut Raja Juli Antoni bersama Wamendiktisaintek Stella Christie meninjau lokasi pembangunan SMA Garuda di Soe, Kab. TTS, NTT (13/1). (Foto: Humas Kemenhut)
JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto berupaya mewujudkan kualitas pendidikan yang berkualitas dan merata. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Di antaranya dengan membangun 20 unit Sekolah Unggulan Garuda di pedalaman NTT dan sejumlah daerah lainnya termasuk di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Lokasi pembangunan Sekolah Unggulan Garuda itu di antaranya berada di Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT. Secara khusus Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni dan Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie meninjau lokasi pembangunan pada Senin (13/1).
"Sebagai pembantu Pak Presiden Prabowo Subianto, saya sebagai menteri Kehutanan berkewajiban memastikan apa yang dicita-citakan menciptakan pendidikan yang berkualitas melalui SMA Garuda ini terlaksana," ujar Raja Antoni dalam keterangannya Senin (13/1) malam. Raja meminta jajarannya untuk mengidentifikasi lahan yang nantinya bisa dipergunakan untuk SMA Garuda.
Sekjen Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu menyebut skema yang terbaik saat ini adalah menggunakan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK). "Ada rencana 4 (alternatif lokasi), salah satunya di Soe ini, dari Kementerian Kehutanan sudah meminta staf di sini untuk mengidentifikasi lahan yang bisa dipergunakan untuk SMA Garuda ini," ujar Raja.
Pada prinsipnya Kemenhut sudah menyampaikan skema sementara. "Nanti diputuskan, skema yang terbaik itu adalah KHDTK, kawasan hutan dengan tujuan khusus," sambungnya.
Untuk diketahui KHDTK merupakan kawasan hutan yang secara khusus diperuntukkan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan kehutanan. Serta untuk pendidikan dan pelatihan kehutanan. Kemudian juga untuk kegiatan religi dan budaya.
Oleh sebab itu, Raja mengatakan nantinya kawasan hutan tersebut bisa digunakan untuk fungsi pendidikan namun hutan tetap dijaga. "Artinya, hutannya tetap bisa dijaga. Tetap bisa jadi kawasan hutan, tapi nanti bu stella bisa membangun SMA Garuda ini," jelasnya. Dengan komitmen akan lebih hijau vegetasinya lebih baik. Sekali lagi tidak ada deforestasi tapi juga fungsi pendidikannya berjalan.
Pada kesempatan yang sama, Wamendiktisaintek Stella Christie mengatakan pihaknya memerlukan 20 hektare. Namun ia memastikan tidak seluruhnya akan dibangun sekolah. "Diperlukan sekitar 20 hektare tapi tidak semua dibangun (sekolah). Jadi seperti living lab juga, jadi siswanya bisa mengerti kehutanan. Kebudayaan alam kita. Jadi yang dibangun hanya kecil sekali," tuturnya.
Dia mengungkap program itu adalah visi langsung Presiden Prabowo yang ingin memberikan akses pada pendidikan berkualitas. Prabowo juga sudah berpesan bahwa karena untuk membangun akses ini perlu di daerah-daerah.
"Bahkan di daerah Soe beliau sendiri yang ingin, iya kita ingin bahwa di daerah situ ada dibangun. Maka di sinilah kita meninjau. Bersyukur sekali hari ini Pak Menteri Raja Juli Antoni bisa menemani kita bekerja bergerak cepat agar bisa dijalankan," tambahnya.
Dalam kunjungannya Menhut didampingi jajaran Kementerian Kehutanan, Plt Sekjen Mahfudz, Direktur Jenderal Planologi Kehutanan Ade Tri Ajikusumah, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Dyah Murtiningsih, Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan Dwi Januanto Nugroho, serta beberapa jajaran lain.
Untuk diketahui pemerintah menargetkan akan membangun 20 Sekolah Unggulan Garuda hingga tahun 2029. Sekolah unggulan itu akan tersebar dihampir setiap provinsi. SMA Unggulan Garuda akan dibangun di empat wilayah, yakni Ibu Kota Nusantara (IKN), Nusa Tenggara Timur (NTT), Bangka Belitung, dan Sulawesi Utara.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mewacanakan program sekolah rakyat (SR) untuk anak dari kalangan masyarakat miskin maupun miskin ekstrem.
