
UNBK SMA saat mengikuti ujian nasional berbasis komputer (UNBK). (Miftahul Hayat/Jawa Pos)
JawaPos.com – Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), memberi sinyal bahwa Ujian Nasional (UN) akan kembali diberlakukan pada tahun ajaran 2025/2026. Hal ini diungkapkan melalui unggahan resmi Kemendikdasmen di Instagram pada Selasa (31/12/2024). Abdul menegaskan komitmen pemerintah untuk menyediakan layanan pendidikan berkualitas dalam upaya membangun generasi Indonesia yang cerdas dan maju.
Pemberlakuan kembali Ujian Nasional mengingatkan pada perjalanan panjang kebijakan pendidikan di Indonesia, yang selalu mengalami transformasi sesuai era dan kepemimpinan. Dari awal pengenalannya hingga penghapusannya, sistem ujian nasional terus berevolusi.
Awal Penerapan Ujian Nasional (2005)
Ujian Nasional pertama kali diperkenalkan pada 2005 oleh Menteri Pendidikan Muhammad Nuh. Sistem ini menggantikan Ujian Akhir Nasional (UAN) yang sebelumnya diterapkan pada 2002–2003. Kebijakan ini dirancang untuk menyelaraskan standar evaluasi pendidikan di seluruh Indonesia, memastikan kesetaraan kualitas pembelajaran antardaerah.
Transformasi Menuju Ujian Nasional Berbasis Komputer (2013)
Pada 2013, di bawah kepemimpinan Anies Baswedan, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) mulai diperkenalkan. Juga dikenal sebagai Computer Based Test (CBT), sistem ini bertujuan memperkenalkan siswa pada teknologi sekaligus meningkatkan keakuratan dan transparansi penilaian. UNBK juga diharapkan mampu meminimalkan praktik kecurangan yang kerap terjadi dalam ujian konvensional.
Penghapusan Ujian Nasional dan Penerapan Asesmen Nasional (2021)
Transformasi signifikan terjadi pada 2021, saat Nadiem Makarim menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Ia menggantikan Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter sebagai bagian dari Asesmen Nasional. Fokus asesmen ini adalah mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan penguatan pendidikan karakter siswa, menggantikan evaluasi berbasis mata pelajaran.
Kebijakan ini menekankan kemampuan bernalar serta karakter siswa sebagai indikator keberhasilan pendidikan, meninggalkan pendekatan yang sebelumnya dinilai terlalu menitikberatkan pada hasil ujian.
Pengaruh Kepemimpinan terhadap Kebijakan Pendidikan
Sejarah menunjukkan bahwa perubahan kebijakan pendidikan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh pergantian kepemimpinan di Kementerian Pendidikan. Setiap menteri memiliki pandangan dan pendekatan yang berbeda terhadap sistem evaluasi pendidikan, yang mencerminkan prioritas dan visi mereka dalam memajukan pendidikan nasional.
Tidak hanya dalam konteks pendidikan, perubahan kebijakan seperti ini sering terjadi dalam kabinet pemerintahan, di mana kepala kementerian melakukan revisi sesuai arah yang dianggap paling sesuai dengan situasi terkini.
Kembalinya Ujian Nasional, jika benar diterapkan pada 2025/2026, akan menjadi momen penting bagi dunia pendidikan. Namun, kebijakan ini perlu diimbangi dengan evaluasi mendalam untuk memastikan sistem tersebut relevan dengan tantangan pendidikan masa kini.
Transformasi kebijakan pendidikan dari masa ke masa mengajarkan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan zaman. Dengan fondasi yang kuat, generasi muda Indonesia diharapkan mampu mengembangkan potensi diri, berkolaborasi, dan bersaing di tingkat global. Bagaimanapun, keberhasilan pendidikan adalah kunci menuju masa depan yang lebih baik.
