Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 19 Oktober 2026 | 21.20 WIB

Pemenuhan Kebutuhan Dasar Berpengaruh pada Masa Depan Seseorang

Siswa Sekolah Rakyat didampingi orang tua untuk persiapan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bogor di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/08/2026). (Hanung Hambara/Dok. Jawa Pos) - Image

Siswa Sekolah Rakyat didampingi orang tua untuk persiapan mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) hari pertama di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Bogor di Jasinga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (20/08/2026). (Hanung Hambara/Dok. Jawa Pos)

JawaPos.com - Pemenuhan kebutuhan dasar merupakan bagian penting dari kebebasan masyarakat. Seseorang sulit menentukan masa depannya sendiri jika kebutuhan pangan, pendidikan, kesehatan, dan akses terhadap layanan dasar belum terpenuhi.

“Ketika setiap kehadiran negara dianggap ancaman yang tersisa adalah negara yang hanya hadir di atas kertas,” tulis Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko pada Senin (19/10).

Budiman menilai pemikiran sosial-liberal memiliki peran penting dalam mengingatkan bahwa kekuasaan negara harus diawasi dan demokrasi membutuhkan kritik. Akan tetapi, kehadiran negara dalam menyediakan kebutuhan dasar masyarakat tidak semestinya selalu dipandang sebagai ancaman terhadap kebebasan.

Sebagai contoh, seorang anak dari keluarga miskin di Cibinong, Kabupaten Bogor. Dia sebelumnya menggembalakan kambing milik orang lain. Setelah masuk Sekolah Rakyat (SR), anak itu memperoleh tempat tinggal, makanan tiga kali sehari, dan pendidikan.

Contoh lain terdapat di Desa Bergas, Kabupaten Semarang. Sebelumnya, anak-anak harus menuruni lembah sungai untuk mencapai sekolah dengan risiko keselamatan ketika musim hujan. Kehadiran jembatan gantung membuat akses mereka menuju sekolah menjadi lebih aman.

Bagi Budiman layanan dasar seperti pendidikan, pangan, dan kesehatan tidak menentukan pilihan hidup seseorang, tetapi memperluas kesempatan untuk menentukan masa depannya sendiri.

Dalam kerangka BP Taskin, kata dia, pengentasan kemiskinan dibagi menjadi tiga tahap. Yaitu, miskin, graduasi, dan mandiri. Tahap pertama berfokus pada perlindungan keluarga rentan melalui bantuan pangan dan instrumen kesejahteraan. Tahap graduasi menekankan pemenuhan layanan dasar dan peningkatan kapasitas. Sementara itu, tahap mandiri diarahkan pada kepemilikan aset dan akses ekonomi agar keluarga tidak terus bergantung pada bantuan.

Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG), Sekolah Rakyat, dan pendidikan berkualitas merupakan upaya memperluas kemampuan masyarakat.

Kemiskinan dapat diwariskan antargenerasi ketika keterbatasan pendidikan, kesehatan, dan pendapatan mempersempit pilihan hidup seseorang. Oleh karena itu, kebijakan pengentasan kemiskinan tidak cukup berhenti pada pemberian bantuan. Pengentasan kemiskinan harus memperbesar kemampuan masyarakat untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

Editor: Ilham Safutra
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore