
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid. (Dok/Kemkomdigi)
JawaPos.com - Kecanduan media sosial, perundungan, penipuan daring, hingga child grooming menjadi sederet ancaman yang mengintai anak-anak di ruang digital.
Pemerintah pun membatasi akses anak ke platform digital berisiko tinggi hingga usia 16 tahun melalui Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS).
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengatakan, kebijakan tersebut bertujuan melindungi anak dari berbagai risiko di internet yang belum tentu mereka pahami atau kenali.
“Banyak sekali risiko-risiko yang dihadapi anak-anak ketika ada di ranah digital yang memang sangat bebas. Itulah mengapa kami, sesuai arahan Bapak Presiden, mengatur bagaimana anak-anak ditunda aksesnya ke ekosistem digital yang high risk,” ujar Meutya dalam Open House SMA Kemala Taruna Bhayangkara di Bogor, Sabtu (17/10).
Menurut Meutya, risiko penggunaan platform digital tidak hanya berkaitan dengan konten yang dikonsumsi anak. Interaksi dengan orang asing, eksploitasi komersial, penyalahgunaan data pribadi, hingga dampak terhadap kesehatan dan keselamatan juga menjadi perhatian pemerintah.
Salah satu persoalan yang disoroti Meutya adalah kecanduan terhadap media sosial dan gim. Sejumlah platform digital memiliki fitur yang dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna sehingga mereka terus menghabiskan waktu di depan layar.
Kondisi tersebut dapat membuat anak kesulitan mengendalikan penggunaan perangkat digital. Bahkan, pembatasan akses oleh orang tua terkadang memicu reaksi emosional.
“Banyak anak-anak yang dengan desain dari produk media sosial, gim, dan lain-lain itu memang sengaja dibuat kecanduan, sehingga ketika ditarik itu emosional. Dilarang itu bisa marah sama orang tuanya, bahkan ada yang sampai melukai orang tuanya,” jelasnya.
Selain kecanduan, fitur komunikasi pada platform digital juga berpotensi membuka celah bagi orang asing untuk mendekati anak. Interaksi yang awalnya terlihat biasa dapat berkembang menjadi perundungan, child grooming, penipuan daring, hingga upaya perekrutan anak ke kelompok radikal.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Fulham vs Hull City: The Tigers Berpeluang Menang Tipis di Craven Cottage
Prediksi Skor Garudayaksa vs Arema FC: Produktivitas Singo Edan Jadi Ancaman Bagi Tuan Rumah
Prediksi Skor Lille vs Brest di Liga Prancis: Verdonk Starter, Les Dogues Berjaya di Pierre Mauroy
Prediksi Susunan Pemain Real Betis vs Barcelona: Yamal dan Adeyemi Jadi Andalan
Prediksi Skor Hamburger SV vs Stuttgart: Die Roten Siap Pesta Gol di Volksparkstadion
Prediksi Skor Espanyol vs Atletico Madrid di Liga Spanyol: Los Rojiblancos Pertahankan Laju Positif
Prediksi Skor PSGC Ciamis vs PSIS Semarang di Pegadaian Championship: Tuan Rumah Hadapi Ujian Berat
Prediksi Susunan Pemain AS Roma vs Genoa: Santiago Castro Siap Jadi Andalan
Prediksi Skor Semen Padang vs PSMS di Championship: Kabau Sirah Bidik Kemenangan Kandang Perdana
Prediksi RANS Nusantara vs Persela Lamongan: Laskar Joko Tingkir Berburu Kemenangan di Malang

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022