
Pertunjukan musik ditampilkan dalam rangkaian kegiatan Peace, Tolerance, Respect (PTR) yang bertujuan menanamkan nilai toleransi dan saling menghargai di kalangan pelajar. (Istimewa)
JawaPos.com-Dinamika geopolitik global yang semakin kompleks menuntut pendekatan baru dalam menjaga perdamaian antarbangsa. Tidak hanya melalui diplomasi politik, tetapi juga melalui pendidikan yang menanamkan nilai toleransi dan saling menghargai sejak dini.
Founder dan CEO Redea Institute, Antarina S. F. Amir, menilai sekolah memiliki peran penting dalam membentuk karakter generasi muda agar mampu hidup berdampingan di tengah keberagaman. “Anak-anak pergi ke sekolah bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi juga untuk mempraktikkan nilai-nilai kehidupan seperti saling menghormati dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Menurutnya, rendahnya literasi lintas budaya dapat membuat konflik global yang terlihat jauh menjadi ketegangan sosial di tingkat masyarakat. Apalagi di era digital, perbedaan pandangan dapat dengan mudah berkembang menjadi konflik jika tidak diimbangi dengan kedewasaan sikap.
“Banyak persoalan di era ini berakar dari kurangnya rasa saling menghargai terhadap perbedaan,” kata Antarina.
Kesadaran inilah yang mendorong Redea Institute untuk terus memperkuat pendidikan karakter di lingkungan Sekolah HighScope Indonesia. Lembaga yang berdiri sejak 1996 tersebut berkomitmen menanamkan nilai toleransi kepada siswa sejak usia dini melalui berbagai program pendidikan.
Salah satu program utama yang dijalankan adalah kegiatan lintas agama bertajuk Peace, Tolerance, Respect (PTR). Program tahunan yang digelar setiap bulan Ramadan ini bertujuan membangun sikap saling menghormati antarsesama manusia serta makhluk hidup demi menciptakan kehidupan yang damai dan berkelanjutan.
“Perbedaan bukanlah pemisah, melainkan kekayaan yang memperkuat kehidupan sosial,” ujar Antarina.
Program PTR telah diselenggarakan secara konsisten sejak 2004 dan melibatkan seluruh siswa dari berbagai latar belakang agama, mulai dari Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, hingga Buddha. Melalui pendekatan inklusif, kegiatan ini memadukan pendalaman iman masing-masing agama dengan sesi kolaborasi lintas keyakinan.
Dalam pelaksanaannya, kegiatan PTR diikuti siswa mulai dari kelas 4 sekolah dasar hingga tingkat sekolah menengah atas di seluruh jaringan Sekolah HighScope Indonesia. Siswa SD dan SMP mengikuti kegiatan selama dua hari satu malam di sekolah, sedangkan siswa SMA mengikuti rangkaian kegiatan selama satu hari penuh hingga setelah salat tarawih.
Pada sesi lintas agama, siswa diajak menggali nilai-nilai universal yang menjadi benang merah berbagai keyakinan, seperti penghormatan terhadap sesama manusia dan makhluk hidup sebagai bentuk ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Setelah itu, siswa mengikuti sesi pendalaman iman sesuai agama masing-masing. Misalnya, saat siswa Muslim melaksanakan salat Isya dan tarawih berjamaah, siswa beragama lain mengikuti diskusi spiritual bersama pemuka agama mereka di ruang terpisah.
“Sekolah mengajarkan siswa untuk menghormati perbedaan, memberi ruang bagi perbedaan, hingga pada akhirnya perbedaan itu tidak lagi menjadi masalah,” kata Antarina.
Selain kegiatan diskusi dan refleksi spiritual, PTR juga diisi dengan berbagai aktivitas sosial. Di beberapa sekolah seperti HighScope Indonesia Medan dan Denpasar, siswa kelas 4 hingga 9 bersama-sama menyiapkan takjil untuk dibagikan kepada masyarakat sekitar.
Antarina menegaskan bahwa pendidikan toleransi bukan sekadar teori di ruang kelas, tetapi harus dipraktikkan melalui pengalaman nyata yang melibatkan interaksi sosial.
