
Ilustrasi Bootcamp. (Istimewa)
JawaPos.com - Di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang makin kompleks, mahasiswa tidak hanya dituntut berprestasi akademik. Mereka juga harus memahami berbagai persoalan secara komprehensif serta menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Melalui inisiatif Future of Education and Skills 2030, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menekankan penguatan student agency. Ini adalah kemampuan pelajar mengambil inisiatif dan bertanggung jawab menciptakan nilai positif di lingkungannya.
Merespons kebutuhan tersebut, Amartha.org menghadirkan program tahunan Fellowship Bootcamp sebagai bagian dari beasiswa Amartha Cendekia. Program ini membekali mahasiswa di bidang STEAM dengan kemampuan kepemimpinan dan pola pikir yang inovatif.
Program ini mendorong mahasiswa memahami persoalan sosial dan berkontribusi aktif menghadirkan perubahan berdampak bagi masyarakat. Dengan bekal ini, mereka diharapkan menjadi pemimpin yang tangguh dan solutif.
Aria Widyanto, Chairman amartha.org, menyampaikan, melalui beasiswa dan program ini, pihaknya ingin membekali mahasiswa agar tidak hanya unggul akademik. "Kami ingin mereka tumbuh sebagai pemimpin komunitas dan mampu menyelesaikan masalah lingkungan sekitar," katanya.
"Kami percaya pembelajaran di bangku kuliah bermakna saat terhubung langsung dengan masalah riil masyarakat. Bootcamp ini jadi ruang refleksi sekaligus ruang aksi, agar mahasiswa berani dan mampu menghadirkan dampak nyata serta berkelanjutan," jelasnya.
Bootcamp yang diikuti oleh 60 penerima beasiswa berlangsung selama empat hari dan jadi tahap puncak pendampingan serta mentoring yang telah mereka jalani selama satu tahun terakhir. Program ini dikemas dengan pendekatan kepemimpinan partisipatif dan reflektif.
Kegiatan ini mendorong peserta mengembangkan cara berpikir sistemik dan meningkatkan empati dalam memahami keterkaitan isu sosial secara menyeluruh. Para peserta juga diperkenalkan praktik mindfulness sebagai landasan membangun kepemimpinan kuat.
Praktik tersebut bertujuan membentuk pemimpin yang sadar diri dan berorientasi pada dampak sosial. Dalam kegiatan ini, banyak pemimpin bisnis dan profesional hadir untuk berbagi pengalaman serta memberikan inspirasi kepada fellows.
Pada sesi penutup, peserta mendapat tantangan merancang prototipe solusi terhadap persoalan sosial yang mereka temukan. Mereka belajar langsung di komunitas dan mengembangkan inisiatif sosial sesuai kebutuhan masyarakat.
Prototipe yang dibuat secara berkelompok ini akan memperoleh pendanaan awal untuk mendukung tahap implementasi awal program. Dengan begitu, hasil karya mereka dapat segera diwujudkan di lapangan.
