Logo JawaPos
Author avatar - Image
13 Februari 2026, 20.19 WIB

Presiden Prabowo: MBG Mungkin Tidak Penting Bagi Mereka yang Berada, tapi Sangat Diperlukan Mayoritas Rakyat

Presiden Prabowo Subianto dalam acara peresmian SPPG Polri dan Gudang Ketahanan Pangan di Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2). (Istimewa) - Image

Presiden Prabowo Subianto dalam acara peresmian SPPG Polri dan Gudang Ketahanan Pangan di Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2). (Istimewa)

JawaPos.com - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi masyarakat Indonesia. Ia menyadari, sebagian kalangan mungkin memandang program tersebut tidak diperlukan, namun anggapan itu bukanlah suara mayoritas rakyat.

Prabowo menjelaskan, program MBG bukanlah gagasan baru. Ia menyampaikan, lebih dari 75 negara di dunia telah lebih dahulu menerapkan program serupa, termasuk negara-negara maju dan demokratis.

“Sudah puluhan negara lain melaksanakan, puluhan negara lain dan negara-negara yang maju, negara-negara yang demokratis pasti punya program makan bergizi gratis untuk rakyatnya,” kata Prabowo dalam acara peresmian SPPG Polri dan Gudang Ketahanan Pangan di Palmerah, Jakarta Barat, Jumat (13/2).

Menurutnya, program MBG mungkin dianggap tidak penting bagi masyarakat yang secara ekonomi sudah mapan. Namun, bagi mayoritas rakyat, program tersebut sangat dibutuhkan.

Makan bergizi gratis mungkin tidak penting untuk orang-orang yang cukup berada, mungkin tidak penting bagi mereka yang di atas. Tapi di seluruh dunia yang saya pelajari, makan bergizi gratis sangat-sangat diperlukan oleh mayoritas rakyat,” tegasnya.

Prabowo juga menyoroti masih tingginya angka stunting di Indonesia. Ia menyebut, stunting atau kekurangan gizi dapat menghambat perkembangan sel-sel tubuh, mulai dari sel otak, sel tulang, hingga sel otot.

Menurutnya, program MBG merupakan bentuk intervensi langsung pemerintah dalam upaya mengatasi dan menekan angka stunting. Ia menilai, persoalan stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan teori atau wacana semata, melainkan membutuhkan langkah konkret.

“Stunting waktu itu 25 persen dari anak-anak kita. Kita tidak bisa hanya dengan teori atau kata-kata, atau program-program indah. Akhirnya saya belajar dari pengalaman bangsa-bangsa lain bahwa satu-satunya jalan adalah intervensi langsung dari pemerintah kepada anak-anak, ibu-ibu hamil, orang tua yang tidak berdaya, dan lansia,” pungkasnya.

Editor: Edy Pramana
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore