Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Januari 2025, 15.12 WIB

Mengenal Tradisi Hajad Dalem Yasa Peksi Burak, Peringatan Isra Mi’raj di Keraton Yogyakarta

Salah satu rangkaian acara Yasa Peksi Burak di Keraton Yogakarta (kratonjogja.id) - Image

Salah satu rangkaian acara Yasa Peksi Burak di Keraton Yogakarta (kratonjogja.id)

JawaPos.com - Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa monumental yang selalu diperingati oleh umat Muslim setiap bulan Rajab. Di Jawa, peringatan Isra Mi'raj  dirayakan dengan berbagai tradisi unik yang sarat makna dan pesan spiritual. 

Salah satunya, Keraton Yogyakarta yang memiliki tradisi unik dalam memperingati peristiwa Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, yaitu melalui upacara yang dikenal sebagai Hajad Dalem Yasa Peksi Burak. Upacara ini diselenggarakan setiap tanggal 27 Rejeb dalam kalender Jawa. Lalu apa itu Yasa Peksi Burak dan bagaimana tradisi ini berlangsung? Berikut penjelasannya:

Makna dan Simbolisme Peksi Burak

Istilah "Peksi Burak" berasal dari kata "peksi" yang dalam bahasa Jawa berarti burung, dan "Burak" yang merujuk pada Buraq, makhluk yang diyakini menjadi kendaraan Nabi Muhammad SAW saat melakukan Isra Mi’raj. 

Dalam tradisi ini, Peksi Burak dibuat dari kulit jeruk bali yang dibentuk menyerupai kepala, leher, badan, dan sayap burung Buraq. Pembuatan miniatur burung ini melibatkan para putri keraton dan Sentana Dalem Putri, yang bersama-sama merangkai Peksi Burak dengan penuh ketelitian dan makna spiritual.

Rangkaian Upacara Yasa Peksi Burak

Dilansri dar Kratonjogja.id, upacara Yasa Peksi Burak terdiri dari tiga bagian utama:

  1. Pembuatan Peksi Burak dan Pohon Buah: Dimulai pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB di Bangsal Sekar Kedhaton, para putri keraton bersama Sentana Dalem Putri merangkai Peksi Burak dari kulit jeruk bali. Selain itu, mereka juga menyusun pohon buah yang terbuat dari rangkaian delapan jenis buah-buahan lokal, yang disusun berutan, dari bawah ke atas mulai dari pisang raja, rambutan, manggis, jeruk, apel, sawo, jeruk bali, dan salak. Serta diberi untaian tebu yang dikupas dan diiris-iris setebal 4 cm.Pohon buah ini dihiasi dengan rimbunan daun kemuning dan bunga patra menggala berwarna merah, kuning, dan oranye.

  • Arak-arakan Peksi Burak: Sekitar pukul 16.00 WIB, arak-arakan Peksi Burak dimulai dari Kedhaton menuju Masjid Gedhe. Arak-arakan ini diiringi oleh Abdi Dalem Kanca Kaji, Abdi Dalem Suranata, dan Kanca Abrit yang membawa rangkaian Peksi Burak serta empat pohon bunga. Prosesi ini melambangkan perjalanan spiritual dan menjadi tontonan yang dinantikan oleh masyarakat sekitar

  • Pengajian di Masjid Gedhe: Puncak acara berlangsung pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB di Serambi Masjid Gedhe Kauman,Yogyakarta, di mana digelar pengajian yang dibuka oleh Abdi Dalem Pengulon dengan membacakan riwayat dan sejarah peristiwa Isra Mi’raj. Pengajian ini bertujuan untuk mengingatkan kembali pentingnya peristiwa tersebut dan hikmah yang dapat diambil, terutama mengenai kewajiban salat lima waktu bagi umat Islam.

  • Itulah dia sekitas tentang Tradisi Yasa Peksi Burak. Memahami tradisi-tradisi leluhur kita, salah satunya Yasa Peksi Burak dapat menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan warisan leluhur. 

    Melalui upacara ini, Keraton Yogyakarta tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga menyampaikan pesan spiritual yang mendalam, mengingatkan umat Islam akan pentingnya salat lima waktu yang diperintahkan dalam peristiwa Isra Mi’raj.

    ***

    Editor: Novia Tri Astuti
    Tags
    Download Aplikasi JawaPos.com
    Download PlaystoreDownload Appstore