JawaPos.com - Mantan Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy ternyata sempat bercita-cita menjadi seorang tentara. Namun, cita-cita itu kandas lantaran tidak mendapat restu dari sang ayah.
Kisah itu terungkap dalam acara bedah buku bertajuk 'Merawat Matahari dan Manusia Limited Edition' di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Senin (13/1) malam.
"Sejak kecil beliau sebenarnya bercita-cita ingin jadi tentara. Kenapa kok pengen jadi tentara. Sehingga ketika ayahanda-nya tidak menghendaki jadi tentara tapi menjadi guru, sekolahnya di keguruan bahkan mulai dari PGA sampai kemudian IKIP Malang, kemudian BPII aktivis HMI, di Tapak Suci Muhammadiyah, kemudian akhirnya di Muhammadiyah. Beliau masih tersimpan cita-cita ingin menjadi tentara," kata penulis buku Merawat Matahari Biografi Muhadjir Effendy, Nasrullah saat memberikan sambutan.
Muhadjir yang bertekad keras menjadi tentara akhirnya terwujud. Namun, bukan dengan mengikuti pendidikan militer, melainkan mengambil disertasi atau penelitian mengenai fenomenologi perwira menengah militer. Muhadjir mendalami perspektif perwira menengah tentara yang kini sudah berpangkat jenderal.
"Yang akhirnya studi doktoral beliau mengambil disertasi fenomenologi perwira menengah militer yang saat ini para perwira menengah itu sempat menjadi jenderal. Jadi beliau ini perspektifnya adalah pengalaman atau perasaan seorang perwira menengah yang kemudian sekarang sudah menjadi jenderal," ungkap Nasrullah.
Nasrullah menyampaikan, buku biografi yang ditulisnya tidak menceritakan sosok Muhadjir selama menjabat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) maupun Menko PMK. Melainkan, buku yang dirilis yakni Merawat Matahari menceritakan masa kecil dan pengalaman Muhadjir sebagai aktivis.
"Jadi kalau mau melihat sosok Prof Muhajir selama jadi menteri maupun Mendikbud atau Menteri PMK atau sekarang maka tidak ada dalam buku ini. Karena kalau mengenai jabatan beliau dari media massa sudah bisa kita lihat," ungkap Nasrullah.
Lebih lanjut, Nasrullah mengungkapkan bahwa jika dilihat-lihat Muhadjir yang merupakan pria kelahiran Jawa Timur itu masih terdapat garis keturunan, persaudaraan dari Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur.
"Kalau masa kecil beliau, masa beliau menjadi aktivis yang mana penuh dinamika politik di mana ada tiga ideologi yang bertarung. Bahkan mengenai trah beliau yang masih ada garis keturunan yang bisa disebut sebagai selulan itu kita cari garisnya ketemu sama dengan Gus Dur. Jadi Bapak kita ini masih ketemu persaudaraannya dengan kyai Abdurrahman Wahid," ujar Nasrullah.
Sementara, Muhadjir yang mengaku tidak mengetahui tidak mengetahui peluncuran dua buku biografi dirinya yang berjudul Mwrawat Matahari dan Manusia Limited Edition. Muhadjir menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang memprakarsai peluncuran buku tersebut, salah satunya Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Prof Fauzan.
"Beberapa hari ini saja Pak Nasrullah memberitahu saya, memprakarsai acara ini ternyata ada Prof Fauzan Wamendiktisaintek, kemudian ada Prof Nazaruddin Rektor UMM, dan Prof Gunawan Rektor Uhamka," papar Muhadjir.
Muhadjir juga mengaku tersentuh setelah membaca buku tersebut. Sebab, terdapat kata pengantar dari Abdul Malik Fadjar yang dinilainya merupakan relasi dalam membangkitkan kemajuan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
"Satu hal yang membuat saya tersentuh membaca buku ini adanya kata pengantar dari almarhum Bapak Prof Abdul Malik Fadjar. Dalam buku pengantar beliau, dalam relasi saya dengan UMM, beliau tidak menyebut sama sekali perannya sendiri dalam membangun dan membesarkan UMM," pungkas Muhadjir.