
Ilustrasi personal branding. (freepik)
JawaPos.com–Membangun networking bisa dilakukan dengan berbagai cara. Mulai dari cara tradisional seperti bergabung dengan komunitas,menghadiri workshop, seminar, menjadi volunteer, hingga menggunakan cara modern dengan memanfaatkan media sosial.
Belakangan ini proses rekrutmen pekerjaan secara digital sering mensyaratkan kepada pelamar menyertakan akun sosial media. Akun media sosial digunakan sebagai syarat wajib mendaftar pekerjaan.
Selain LinkedIn, Instagram juga sering digunakan sebagai portofolio untuk melamar pekerjaan. Instagram dengan jangkauan yang luas, dianggap sebagai platform untuk membangun citra sosial dan dianggap mencerminkan perilaku seseorang.
Berdasar hasil penelitian yang dilakukan Universitas Sebelas Maret (UNS), Instagram saat ini berkembang menjadi media sosial yang strategis, kegiatan yang dilakukan penggunanya dalam membuat sebuah unggahan sudah ditargetkan untuk mencapai tujuan tertentu. Sehingga banyak pula yang menggunakan Instagram untuk keperluan personal branding.
Personal branding atau citra diri adalah hal yang sangat penting dan wajar dilakukan. Personal branding akan membantu memberikan kesan pertama yang kuat tentang diri kita kepada orang lain. Personal branding juga dapat dimanfaatkan untuk meraih karir yang kita idam-idamkan.
Dengan menampilkan konten instagram yang profesional, sesuai dengan keahlian, minat, dan nilai-nilai yang positif. Anda akan memiliki peluang untuk menarik recruiter dari perusahaan yang Anda impikan.
Personal branding lewat instagram juga berfungsi untuk menunjukkan kemampuan seseorang sekaligus menciptakan jaringan sosial yang lebih profesional. Perekrut di era sekarang ini sering memanfaatkan Instagram sebagai salah satu faktor dalam menilai calon karyawan.
Banyaknya persaingan di dunia kerja saat ini membuat mahasiswa mengikuti semua kegiatan. Namun hal ini dapat menjadi tidak sehat ketika mereka sudah mulai mengalami overcommitment kondisi seseorang yang terlalu banyak mengambil tanggung jawab sehingga kewajiban utama mereka menjadi terabaikan.
Mahasiswa cenderung terjebak dalam kebiasaan mengikuti banyak organisasi dan kegiatan agar terlihat dan terkesan aktif di dunia perkuliahan. Padahal yang paling penting dalam suatu organisasi adalah kualitas individu bukan hanya jumlah aktivitas yang diikuti. Esensi dari berkegiatan dan berorganisasi adalah kualitas diri untuk menyelesaikan masalah, mengelola tanggung jawab, serta mempersiapkan diri menghadapi masa depan.
Budaya overcommitment ini berasal dari hustle culture. Pola pikir yang berkembang di kalangan gen Z yang percaya bahwa kesuksesan profesional hanya bisa diraih dengan kita bekerja keras tanpa henti. Hustle culture ini sudah ada sejak dulu, dan muncul pertama kali pada buku Confession of a Workaholic (1971) karya Wayne Oates.
Dilansir jurnal STIE Trianandra, ciri individu yang terjebak dalam hustle culture adalah orang-orang yang berpikir secara perfeksionis dan terobsesi terhadap hasil bukan proses. Sayangnya perilaku ini tidak didasarkan pada pengembangan diri untuk lebih baik lagi, namun hanya pada kebutuhan untuk mendapatkan validasi atau imbalan lain dari pihak eksternal.
Budaya hustle culture dengan komitmen yang berlebihan justru dapat berdampak negative terhadap produktivitas mahasiswa. Hustle culture dapat mengganggu fokus utama, yakni pada kewajiban mahasiswa untuk menuntut ilmu. Kondisi lain ketika hustle culture adalah dapat menyebabkan terbengkalainya organisasi karena jadwal yang tidak masuk akal.
Selain itu, ketika kita tidak memiliki tujuan yang jelas, hanya memikirkan ajang pencitraan, hal ini pada akhirnya tidak memberikan manfaat karena pekerjaan berlebihan yang Anda ambil tidak mengandung nilai esensial. Solusi yang dapat diambil adalah tetap bekerja keras, namun dengan menjaga waktu kerja yang wajar.
