
Suyanti, 38, menunjukkan foto Bintang Balqis Maulana semasa hidup bersama kakak-kakaknya. Dia berharap kasus kematiannya diusut seadil-adilnya. (Foto: Greta Wardani/JPRG)
JawaPos.com – Fakta baru terkait kasus kematian santri Pondok pesantren Al Hanafiyyah bernama Bintang Balqis Maulana, 14, sedikit demi sedikit terkuak.
Dilansir Radar Kediri (JawaPos Grup), Kamis (29/2), santri asal Desa Karangharjo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi itu ternyata tidak hanya dikeroyok sekali oleh santri lainnya.
Sebelum meninggal, korban ternyata sudah beberapa kali dipukuli. Pemukulan itu sudah terjadi sejak Selasa (20/2) hingga Kamis (22/2) siang.
Korban dipukuli di beberapa bagian tubuhnya mulai dari pipi, dada, punggung, dan beberapa bagian tubuhnya lainnya. Selain itu, korban juga sempat disundut menggunakan rokok.
“Pemicu pemukulan itu karena beberapa alasan,” kata sumber koran Radar Kediri (JawaPos Grup).
Pemukulan yang terjadi pada hari Selasa (20/2), diketahui dipicu karena korban menolak piket bersih-bersih lingkungan pondok. Hal itu karena dia baru saja sembuh dari sakit.
Lalu, pemukulan kedua yang terjadi pada Rabu (21/2) malam, pemicunya yakni karena korban tidak mengikuti salat berjemaah.
Kemudian, pada pemukulan terakhir yakni hari Kamis (22/2) siang, AF, 16, salah satu tersangka yang juga sepupu korban melakukan pemukulan bersama tersangka lain.
Alasannya, karena korban diketahui sering mengadukan masalah di pesantren kepada Suyanti, 38, sang ibu. “Sering wadul, jadi tersangka marah,” lanjut sumber Jawa Pos Radar Kediri di Polres Kediri Kota.
Setelah pemukulan terakhir itu, kondisi korban menjadi semakin lemah pada Kamis malam. Luka di wajahnya sempat diobati. Namun, dia jadi semakin pucat.
Saat itu, para tersangka pun segera membawa korban ke RS Arga Husada Ngadiluwih sekitar pukul 03.00 Jumat (23/2). Nahas, beberapa jam kemudian korban dinyatakan meninggal.
Seperti diberitakan sebelumnya, dalam kasus ini Polres Kediri Kota telah menetapkan empat tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap korban.
Mereka adalah MN, 18, santri asal Sidoarjo; MA, 18, santri asal Nganjuk; AF, 16, santri asal Bali yang juga sepupunya; serta AK, 17, santri asal Surabaya. Alhasil, keempat pemuda ini dijebloskan ke tahanan.
Disisi lain, Rini Puspitasari, penasihat hukum empat tersangka menyebut, penganiayaan dilakukan karena korban beberapa kali tidak mengikuti salat berjemaah. “Konteksnya menasihati, tetapi tetap tidak sholat,” katanya.

Prediksi Skor Tanjung Verde vs Arab Saudi di Piala Dunia 2026: Misi Blue Sharks Pulangkan Green Falcons
Prediksi Skor Mesir vs Iran di Piala Dunia 2026: The Pharaohs Selangkah Lagi ke 32 Besar Piala Dunia 2026
Prediksi Skor Selandia Baru vs Belgia di Piala Dunia 2026: Pembuktian Romelu Lukaku Belum Habis!
Prediksi Skor Uruguay vs Spanyol di Piala Dunia 2026: La Roja Tak Ingin Tersandung, La Celeste Wajib Menang
Prediksi Skor Aljazair vs Austria di Piala Dunia 2026: Tiket 32 Besar Dipertaruhkan, Duel Sengit Berpotensi Imbang
Prediksi Skor Kroasia vs Ghana di Piala Dunia 2026: Duel Penentu Tiket 32 Besar, Hasil Imbang Skenario Paling Masuk Akal
Prediksi Skor RD Kongo vs Uzbekistan di Piala Dunia 2026: Duel Sengit di Laga Terakhir Fase Grup
Prediksi Skor Senegal vs Irak di Piala Dunia 2026: Sadio Mane Jadi Kunci Kalahkan Singa Mesopotamia
Prediksi Afrika Selatan vs Kanada di 32 Besar Piala Dunia 2026: Bafana Bafana Ukir Sejarah!
Prediksi Skor Panama vs Inggris: Three Lions Sedang Tak Ideal, Harry Kane Ingin Kembali ke Jalur Gol
