
W.S. DJAMBAK
Lelaki itu gelisah menyusur bencah yang basah. Sedari tadi dia merasa ada yang mengintai dari balik semak.
DIA mendelik dan melihat dua buah cahaya berpendar merah sebalik semak ilalang. Hanya ada dua kemungkinan, kalau bukan harimau, tentu cindaku. Namun, cindaku ”harimau jejadian” itu konon bisa mengendap tanpa terlihat di balik sehelai ilalang. Andaikan pun sepasang cahaya merah yang berpendar itu adalah harimau, postur tubuhnya terlalu rendah seperti posisi kuda-kuda hendak menerkam.
Dalam satu gerakan, makhluk itu melompat keluar.
”Anjing!” umpatnya tergelenjat melihat makhluk yang ditakutinya itu tak lain adalah seekor anjing.
Istrinya tak lagi sanggup menertawai suaminya, meski hanya tersenyum. Pikirannya cemas bercampur kalut pada sosok yang terbalut selimut pada jarit batik yang tersampir pada pundaknya yang kurus.
Si lelaki sibuk memiringkan payung yang dipegangnya menggunakan tangan kanan agar istri dan anaknya tidak kehujanan, sedang tangan kiri memegangi senter –sibuk menyigi ke jalan seakan cahayanya menyeruak rinai yang tiada usai. Sebagian tubuhnya sudah kuyup membuat bibirnya semakin susah mengatup.
Ia mempercepat jalan hingga istrinya setengah berlari mengiring langkahnya yang lebih panjang. Dalam anggapannya, kalau tidak bergegas, segalanya akan nahas. Malam itu sekira pukul sebelas, tidak ada lagi orang yang lalu-lalang bahkan hanya untuk mencari kopi sambil bermain kartu di kedai. Angin gunung yang mengalir dari dua puncak gunung menyisir lembah dan sampai di kampung kecil itu menyebabkan pucuk-pucuk kayu manis bergisiran satu sama lain.
Sedikit lagi, setelah melewati tikungan yang ditumbuhi rumpun salam dan melalui kantor desa dengan bangunan khas Minangkabau (yang atapnya bergonjong) mereka tiba di lokasi.
”Kita sudah sampai,” bisiknya menahan gigil. Istrinya diam. Risau sambil sibuk menimang anak mereka yang menggagau.
”Assalamualaikum. Etek ... Tolong buka.”
Dia setengah berteriak sambil menggedor pintu hingga tak lama sesosok wanita tua muncul dari dalam dan membukakan mereka pintu. Matanya menyipit sejenak mencoba mengenali pasangan di depannya itu.
”Ah, waang rupanya, Sidin. Mari masuk,” serunya sambil mempersilakan.
Bayi malang yang baru berumur beberapa hari –yang seharusnya berwarna merah, putih pucat serupa dinding kusam rumah– diletakkan di atas kasur, napasnya tersengal. Si perempuan tua dengan sigap mengambil stetoskop dan memeriksa, kemudian dengan putus asa ia menggeleng lemah.
”Ini di luar kemampuan kami para bidan,” ucapnya prihatin, wajahnya tertunduk menyaksikan bayi kecil itu meregang nyawa. Sidin dan istrinya meratap merobek malam yang semakin kelam.
***
Viral Mahasiswi Universitas Budi Luhur Mengaku Dilecehkan Oknum Dosen: Pelaku Dinonaktifkan tapi Tetap Digaji
Samsung Rilis Galaxy A07 5G di Indonesia, Andalkan Baterai 6.000 mAh untuk Aktivitas Seharian
Bacaan Ibadah Gereja Katolik Sabtu, 4 April 2026: Hari Sabtu Suci Vigili Paskah
9 Tempat Nasi Padang di Surabaya dengan Rasa Paling Juara Cocok untuk Makan Bareng Keluarga
Kronologi Operasi Penyelamatan Pilot Jet Tempur F-15E Milik Amerika di Iran: Misi Rahasia AS di Balik Garis Musuh
Iran Tembak Jatuh Helikopter Black Hawk AS Saat Misi Penyelamatan Pilot, Nasib Awak Masih Misterius
Ketapang–Gilimanuk Macet 15 Km, Komisi V DPR Desak Pemerintah Beri Solusi Konkret
Berkasus dengan Influencer, Rendy Brahmantyo Tunjuk Kuasa Hukum Baru
Ini Alasan Rusia, Tiongkok, dan Prancis Halangi Resolusi DK PBB soal Selat Hormuz
