Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 15.47 WIB

Dari Seni Jalanan ke Mode, Warisan Keith Haring tentang Ekspresi Diri Terus Hidup

Seniman Amerika Serikat, Keith Haring. (Istimewa) - Image

Seniman Amerika Serikat, Keith Haring. (Istimewa)

JawaPos.com - Seni tidak selalu lahir di galeri atau museum. Bagi seniman Amerika Serikat Keith Haring, ruang publik seperti jalanan, kereta bawah tanah, dan klub malam justru menjadi tempat untuk mengembangkan gagasan sekaligus menjangkau masyarakat luas.

Melalui garis tegas, figur sederhana, dan simbol visual yang mudah dikenali, pria yang lahir pada 1958 dan tutup usia di 1990 ini menjadikan seni sebagai medium untuk menyampaikan gagasan tentang kehidupan dan manusia.

Ketika tiba di New York City pada usia 19 tahun untuk belajar di School of Visual Arts, Haring menemukan dunia seni alternatif yang berkembang di luar institusi formal. Terinspirasi oleh seniman grafiti yang menghiasi gerbong kereta bawah tanah, ia mulai menggambar menggunakan kapur putih di atas kertas hitam yang menutupi panel iklan kosong di stasiun.

Aktivitas tersebut menjadi semacam laboratorium kreatif bagi Haring. Ia dapat bereksperimen dengan gagasan visual sekaligus berinteraksi dengan audiens dari berbagai latar belakang.

Dari proses itu lahir sejumlah motif khas, seperti radiant baby, barking dog, dan running figure, yang kemudian berkembang menjadi bahasa visual yang dikenal luas.

Sejak 1982, Haring mulai memamerkan karyanya di galeri dan museum di berbagai negara tanpa meninggalkan proyek seni publik.

Ia menggunakan beragam media, dari permukaan benda sehari-hari hingga mural berskala besar, untuk menyampaikan tema-tema mendasar seperti kelahiran, kematian, cinta, dan perang. Karyanya juga terhubung dengan isu sosial, termasuk kampanye literasi dan peningkatan kesadaran terhadap AIDS.

Setelah didiagnosis mengidap AIDS pada 1988, Haring mendirikan Keith Haring Foundation pada 1989.

Yayasan tersebut dibentuk untuk mendukung organisasi yang bergerak di bidang AIDS melalui pendanaan dan materi visual, sekaligus memastikan warisan seni dan filantropinya terus berlanjut. Hingga kini, yayasan itu memberikan hibah untuk program layanan bagi kaum muda, pendidikan, serta perawatan HIV/AIDS.

Haring meninggal dunia pada 1990, tetapi karya-karyanya terus hadir dalam pameran retrospektif internasional dan berbagai koleksi publik maupun pribadi. Perjalanan kariernya yang relatif singkat memperlihatkan bagaimana seni dapat melampaui batas ruang pamer dan menjadi bahasa visual yang menjangkau beragam kalangan.

Editor: Banu Adikara
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore