
Ilustrasi- Pasangan yang kurang harmonis
JawaPos.Com - Sindrom Mothering adalah istilah yang menggambarkan seseorang dengan peran dominan atau berkuasa dalam hubungan asmara. Kata "mother" yang berarti "ibu" mencerminkan sikap pasangan yang memperlakukan kekasihnya seolah-olah seperti anak yang harus diarahkan atau mudah dikendalikan. Sikap ini dapat muncul dari keinginan untuk menjaga hubungan tetap terkendali, namun berisiko menghambat keseimbangan dan rasa saling menghargai dalam hubungan tersebut.
Apa yang terjadi ketika cinta berubah menjadi kebiasaan "mengasuh" pasangan? Mungkin kamu tanpa sadar selalu mengingatkan pasangan untuk makan, mengatur jadwalnya, atau bahkan mengambil alih semua keputusan penting dalam hidupnya. Awalnya, ini mungkin terasa seperti bentuk kasih sayang. Namun hati-hati tanpa disadari, dirimu bisa terjebak dalam sindrom mothering!
Sindrom mothering ini bukan sekadar bentuk perhatian berlebihan, dampaknya bisa memicu masalah psikologis yang serius. Pria yang "diasuh" bisa kehilangan rasa percaya diri, sementara perempuan yang menjadi “pengasuh” justru merasa kelelahan dan frustasi. Pola hubungan seperti ini tidak hanya membebani emosi, tetapi juga mengancam keharmonisan jangka panjang.
Jika dalam hubungan asmara pasanganmu cenderung bersikap lebih dominan, menunjukkan kasih sayang dengan cara mengasuh secara berlebihan, atau mencoba mengontrol berbagai aspek hubungan, bisa jadi ia mengalami sindrom mothering dalam dinamika kalian. Sikap ini sering kali muncul dari keinginan untuk melindungi atau memastikan segalanya berjalan sempurna, meski tanpa disadari dapat menekan pasangannya.
Menurut Pascale E. Nakhale, perilaku mothering sering kali muncul tanpa disadari sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap kemampuan pasangan atau kekhawatiran bahwa kamu tidak mampu memenuhi ekspektasinya. Sifat ini bisa berkembang secara spontan meskipun tidak direncanakan.
5 Tanda Perempuan Memiliki Sindrom Mothering dan Dampak Bagi Pria
Mengambil Keputusan Tanpa Diskusi
Dalam sebuah hubungan, komunikasi dan diskusi bersama sangat penting saat mengambil keputusan. Namun, pasangan dengan sindrom mothering cenderung membuat keputusan secara sepihak tanpa melibatkan pasangannya.
Sikap yang terlalu mengasuh ini dapat menyebabkan pasangan menjadi bergantung secara berlebihan. Akibatnya, kemampuan untuk bersikap mandiri terhambat, yang kemudian dapat memunculkan perasaan tidak mampu atau kurang percaya diri. Dalam jangka panjang, hal ini tidak hanya mempengaruhi dinamika hubungan tetapi juga dapat mengganggu kehidupan sosial dan perkembangan pribadi pasangannya.
Selalu Memberikan Nasehat Tanpa Diminta
Sindrom mothering pada pasangan seringkali muncul sebagai bentuk perhatian dan rasa sayang, salah satunya melalui pemberian nasehat tanpa diminta. Meskipun niatnya mungkin baik, memberikan nasihat terus-menerus dapat membuat pasangan merasa seolah-olah pasangannya memiliki kontrol penuh atas hidupnya.
Ketika nasehat menjadi berlebihan atau tanda-tanda lain dari sindrom mothering terus muncul, pasangan mulai merasa terbatas dalam berkomunikasi. Beberapa orang lebih memilih untuk didengarkan tanpa harus diberi saran atau instruksi, dan hal ini bisa menciptakan jarak emosional. Akibatnya, pasangan mungkin mulai membatasi interaksi atau merasa tidak nyaman dalam berbicara, yang bisa mempengaruhi kedekatan dalam hubungan.
Mengambil alih Tugas
Mengambil alih tugas dan tanggung jawab dalam hubungan sering kali terjadi pada pasangan dengan sindrom mothering. Mereka cenderung tidak memberikan kesempatan kepada pria untuk mengelola tugasnya sendiri, yang akhirnya menimbulkan ketergantungan. Ketidakpercayaan terhadap kemampuan pasangan menjadi pendorong utama munculnya sikap ini, di mana segala hal ingin dikendalikan oleh pasangan dengan sindrom mothering.
Bagi pria yang mengalami hal ini, perasaan tidak dihormati bisa timbul karena mereka merasa tidak diberikan ruang untuk menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sendiri. Sebagian besar pria ingin merasa dominan dalam hubungan dan berperan sebagai pelindung, namun sikap over control dari pasangan justru menghambat keinginan tersebut, yang pada akhirnya bisa merusak dinamika hubungan.
