Logo JawaPos
Author avatar - Image
12 Januari 2025, 23.03 WIB

Mengambil Keputusan Hanya Mengandalkan Logika Tanpa Emosi? Salah! Ini Faktanya

Mengambil Keputusan Melibatkan Emosi dan Logika. (Pexels) - Image

Mengambil Keputusan Melibatkan Emosi dan Logika. (Pexels)

JawaPos.com - Mengambil keputusan hanya mengandalkan logika, apakah ini adalah anggapan yang tepat? Mungkin hingga saat ini masih ada yang berasumsi bahwa emosi tidak pernah dilibatkan dalam langkah tersebut.

Bisa jadi, anggapan seperti ini muncul dari konsep Cartesian Dualism yang memisahkan antara jiwa dan tubuh. Menurut konsep dari Rene Descartes tersebut, jiwa dan tubuh diyakini sebagai dua hal berbeda, seperti ada pemisah antara keduanya.

Namun, dr. Jiemi Ardian, spesialis kejiwaan sekaligus psikiater mengatakan konsep seperti itu tidak sepenuhnya benar. Melalui kanal YouTube-nya, dr. Jiemi memberikan penjelasan yang mengacu pada buku berjudul Descartes Error karangan Antonio Damasio.

"Buku ini menggambarkan sebenarnya proses logika dan emosi atau tubuh dan jiwa itu bukan dua hal yang benar-benar terpisah," ujar sang dokter, dikutip dari YouTube (12/1/24).

Termasuk pula dalam mengambil keputusan, dr. Jiemi menegaskan logika saja tidak cukup. Lantas bagaimana penjelasannya?

1. Mengambil Keputusan Tanpa Melibatkan Emosi

Buku Descartes Error menceritakan tentang seorang pria bernama Elliot yang mengalami tumor otak. Pada kasus ini, bagian ventromedial prefrontal cortex miliknya terganggu.

Tapi kondisi ini sama sekali tidak mempengaruhi logika Elliot. Pria tersebut masih bisa memberikan analisis dengan baik, mengobrol secara lancar, dan punya dasar yang bagus untuk mempertimbangkan sesuatu.

Hanya saja, Elliot seperti sulit menentukan keputusan dan mengatur skala prioritas. Bahkan pilihan sederhana seperti menentukan antara dua tanggal, yang mana keduanya pun Elliot sebenarnya tidak ada agenda apapun, dia tetap tidak bisa memutuskan.

Kenapa hal ini bisa terjadi di saat logika Elliot tidak terganggu? Rupanya, dr. Jiemi menjelaskan bahwa ventromedial prefrontal cortex membuat Elliot sulit merasakan emosi sekunder. Mengutip dari Verywellmind, emosi sekunder merupakan reaksi emosional yang dialami seseorang terhadap emosi lain.

Contoh, seseorang merasa malu lantaran dirinya cemas dan sedih. Di sini, cemas atau sedih merupakan bagian emosi primer, sementara emosi sekundernya adalah malu.

Menurut penjelasan sang dokter, Elliot menjadi sangat sulit mengambil keputusan lantaran gagal melibatkan emosi sekunder, imbas dari penyakit tumor otaknya tersebut.

2. Emosi Berperan Penting dalam Mengambil Keputusan

Pada intinya, sebuah keputusan bukan murni didasari oleh logika saja, namun emosi sekunder pun berperan penting. Apabila hanya menggunakan logika, waktu akan lebih banyak terkuras dan menjadi tidak efisien.

"Misal ada pilihan Android atau iPhone, pilihnya pakai apa ya? Pakai emosi, baru logika disertakan setelahnya, jadi ditambah muatan logisnya. Tapi sebenarnya, yang memilih adalah emosi sekunder, (pilihan) mana yang membuat nyaman dan tidak nyaman, itu yang dipilih," jelas dr. Jiemi.

Dari penjelasan ini, sudah cukup jelas bahwa yang mengambil keputusan itu sebenarnya adalah emosi. Namun tetap turut melibatkan logika.

***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore