
ilustrasi puasa. (Freepik)
JawaPos.Com- Pada umumnya puasa dikaitkan dengan usaha untuk ibadah di beberapa kepercayaan. Namun dalam perkembangannya, puasa kini difungsikan bermacam-macam, di antaranya adalah untuk menurunkan berat badan, menjaga kesehatan, meningkatkan kecantikan, menyembuhkan penyakit psikologis, dan masih banyak lagi.
Berpuasa sejatinya memiliki segudang manfaat. Tak hanya meningkatkan daya tubuh semata melainkan menambah ketahanan mental dan psikologi manusia. Puasa mempengaruhi psikologi manusia karena saat berpuasa, kita akan menahan diri serta mengurangi asupan kalori dan menunda waktu makan yang biasanya dapat dilakukan sewaktu-waktu, beberapa hal tadi menyebabkan dampak psikologis yakni kita akan menjadi lebih disiplin.
Puasa yang mengharuskan diri untuk menahan segala jenis hasrat dan nafsu, dapat berguna untuk meningkatkan kontrol diri serta kepekaan sosial. Puasa juga memandu seseorang untuk mengekspresikan emosi negatif dengan cara yang lebih sehat dan tidak bereaksi terlalu berlebihan, tidak mudah marah ataupun larut dalam kesedihan.
Dilansir dari laman resmi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, manfaat puasa bagi psikologi antara lain:
Puasa adalah aktivitas yang melibatkan tubuh, pikiran, dan spiritual. Sebuah hadist mengatakan, "Berpuasalah maka engkau sehat," menunjukkan bahwa puasa berpengaruh positif terhadap kesehatan. Di Indonesia, waktu puasa berlangsung sekitar 14 jam, di mana orang tidak makan dan minum. Selama puasa, aktivitas fisik tidak berpengaruh buruk pada kadar glukosa darah, malah membantu menjaga daya tahan tubuh.
Puasa juga memiliki nilai keagamaan yang penting. Aktivitas puasa bisa meningkatkan nilai hidup seseorang, termasuk nilai agama, sosial, dan ekonomi. Selama bulan Ramadhan, banyak kajian keagamaan diselenggarakan di masjid. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Ramadhan adalah bulan penuh berkah dengan pahala yang dilipatgandakan. Hal ini mendorong orang untuk beribadah lebih banyak, seperti shalat, membaca Al-Qur'an, dan berdzikir. Pengalaman religius yang mendalam bisa muncul ketika seseorang beribadah dengan intens.
Puasa juga membawa dua kegembiraan, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Allah(Sholat). Selain ibadah pribadi, puasa mendorong tindakan sosial, seperti memberi makanan bagi orang lain dan beramal. Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai dermawan, terutama di bulan Ramadhan. Suasana ini menciptakan dorongan untuk beramal bagi kesejahteraan orang lain, memperkuat nilai sosial. Pengulangan aktivitas ibadah dan sosial selama puasa membentuk nilai-nilai keagamaan dan sosial yang lebih kuat dalam diri seseorang.
Puasa memiliki peran penting dalam meningkatkan kontrol diri. Kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengatur perilakunya menghadapi berbagai rangsangan agar mencapai hasil yang diinginkan. Menurut seorang ahli Psikologi Agama, orientasi religius dapat memberi dampak positif pada kontrol diri dan beberapa aspek kepribadian lainnya. Puasa adalah ungkapan keyakinan seseorang kepada Tuhan, dan bagi yang menjalankannya, seperti di bulan Ramadhan, puasa mencerminkan keselarasan dengan ajaran agama.
Puasa juga dipercaya dapat meningkatkan kreativitas. Dalam observasi, beberapa kreator Muslim merasa lebih hidup saat mendapatkan ide-ide cemerlang selama berpuasa. Untuk mendukung proses kreatif, penting untuk memahami masalah secara mendalam dan menambah wawasan melalui membaca dan berdiskusi. Mereka meyakini bahwa aktivitas ibadah seperti berdoa dan puasa dapat membantu mendapatkan ide dari Allah. Saat berpuasa, jiwa menjadi lebih bersih, sehingga pengetahuan dari Tuhan lebih mudah diterima.
Selain itu, puasa juga berfungsi untuk mengendalikan perilaku seksual. Selama berpuasa, dorongan seksual cenderung berkurang. Menurut hadits, bagi yang belum mampu menikah, berpuasa adalah cara untuk menekan nafsu. Saat perut tidak diisi, nafsu seksual pun mengalami penurunan.***
