
Ilustrasi pasangan bercerai. (pexels.com)
JawaPos.com - Perceraian adalah salah satu pengalaman hidup yang paling menantang. Ketika dua orang memutuskan untuk berpisah, prosesnya bisa sangat emosional dan penuh konflik.
Namun, apa yang membuat situasi ini menjadi jauh lebih rumit dan merusak adalah ketika anak-anak menjadi "senjata di perceraian."
Artinya, anak-anak digunakan sebagai alat untuk memenangkan pertempuran emosional atau bahkan material melawan mantan pasangan.
Dilansir dari laman Geediting.com pada Minggu (5/1) berikut adalah 9 ciri orang tua yang menggunakan anak-anak mereka sebagai senjata selama perceraian.
Psikologi mengajarkan bahwa rasa bersalah adalah emosi yang sangat kuat. Beberapa orang tua memanfaatkan ini dengan cara menanamkan rasa bersalah pada anak-anak mereka.
Mereka mungkin berkata, "Jika kamu mencintaiku, kamu pasti ingin tinggal bersamaku," atau menggunakan pendekatan serupa. Ini membuat anak berada dalam posisi sulit, di mana mereka merasa terjebak di antara kedua orang tua yang mereka cintai.
Pesan seperti ini, baik yang halus maupun terang-terangan, dapat memengaruhi perkembangan emosional anak dalam jangka panjang.
Keterasingan orang tua adalah tindakan sistematis untuk membuat anak menjauh dari salah satu orang tua. Misalnya, salah satu pihak mungkin sering berbicara buruk tentang mantan pasangannya di depan anak-anak.
Akibatnya, anak-anak mulai melihat orang tua yang lain dari sudut pandang negatif. Padahal, anak-anak membutuhkan hubungan yang sehat dengan kedua orang tua.
Ketika salah satu orang tua mencoba mengontrol narasi dengan mengasingkan mantan pasangan, mereka merampas hak anak untuk menciptakan penilaian sendiri.
Orang tua yang menggunakan anak-anak sebagai senjata di perceraian sering kali menunjukkan sifat mengontrol.
Mereka mungkin mendikte kapan dan bagaimana mantan pasangan bisa bertemu dengan anak-anak atau bahkan memanfaatkan anak-anak untuk mendapatkan informasi pribadi tentang mantan pasangan.
Semua ini dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kendali. Sayangnya, perilaku ini sering kali mengorbankan kesejahteraan anak-anak.
Mereka yang menggunakan anak-anak dalam konflik perceraian sering kali menggambarkan diri mereka sebagai korban.
Dengan bercerita kepada anak-anak tentang bagaimana mereka disakiti oleh mantan pasangan, mereka berusaha menarik simpati dan membuat anak berpihak pada mereka.
