
Ilustrasi generasi beta yang diprediksi akan sepenuhya tumbuh di era digital. (Freepik)
JawaPos.com - Setelah Generasi Alpha, kini lahir generasi selanjutnya yaitu Generasi Beta. Generasi ini mulai diteruskan oleh anak-anak yang lahir pada 2025-2039.
Menurut McCrindle, dunia digital dan fisik akan berjalan mulus pada masa Generasi Beta.
Jika pada Generasi Alpha, karakteristik anak dipengaruhi oleh kebangkitan teknologi dan kecerdasan buatan atau AI. Berbeda dengan generasi Beta.
Pada Generasi Beta, kemungkinan teknologi AI telah sepenuhnya mempengaruhi tingkah laku anak.
Mulai dari pola pikir, kecerdasan, hingga perilaku sehari-hari.
Sejalan dengan perubahan teknologi yang akan dialami oleh Gen Beta, orang tua juga harus ekstra hati-hati untuk tetap mendampingi dan memantau perilaku anak.
Oleh karena itu, pola asuh sesuai karakteristik anak sangat penting untuk perkembangan kualitas hidup Gen Beta.
Generasi Beta akan terbiasa dengan teknologi buatan yang tidak hanya dapat membantu pekerjaan, tetapi juga memengaruhi cara mereka belajar dan berinteraksi.
Dalam dunia yang semakin padat ini, Gen Beta akan merasakan urbanisasi yang terus berkembang akibat peningkatan populasi global. Terutama di dalam wilayah perkotaan.
Tugas orang tua untuk mengasuh anak memang tidak mudah.
Beberapa orang tua kerap mengeluh dan merasa kewalahan mengasuh buah hatinya yang tidak mau menurut atau sulit diatur. Masalah ini mungkin bisa disebabkan oleh pola asuh anak (parenting) yang salah.
Penerapan pola asuh memang harus disesuaikan dengan karakteristik dari anak itu sendiri.
Mengapa demikian?
Karena setiap anak tentu memiliki karakter masing-masing, sehingga pendekatan yang dilakukan tentu juga berbeda.
Seiring banyaknya aktivitas kehidupan yang bergantung pada teknologi kecerdasan atau AI, orang tua harus menerapkan pola asuh yang tepat untuk anak.
