
Ilustrasi kakek dan nenek yang sedang tetap tajam pikiran dan mentalnya meski sudah berusia 80 tahun.(gpointstudio/freepik)
JawaPos.com - Suara derit kursi kantor yang ditinggalkan, meja yang mulai kosong dari tumpukan berkas, dan lambaian perpisahan dari rekan kerja.
Pemandangan ini, bagi sebagian orang, menandai babak baru dalam kehidupan, yakni pensiun. Namun, di balik senyum perpisahan ada sesuatu yang tak terlihat.
Tak sekadar kehilangan rutinitas kerja, tetapi juga hilangnya identitas yang selama ini melekat dengan erat. Maka ini menjadi mula yang dialami banyak pensiunan, sebuah kondisi psikologis yang dikenal dengan post power syndrome.
Memahami Psikologi Post Power Syndrome
Melansir dari Prodiadigital.com, post power syndrome bukan sekadar perasaan sedih karena meninggalkan pekerjaan. Sindrom ini mencerminkan pergulatan batin yang mendalam akibat hilangnya peran dan status sosial yang selama ini mendefinisikan diri seseorang.
Jabatan, kekuasaan, dan rutinitas kerja, bagi sebagian orang telah menyatu dengan identitasnya. Ketika semua itu lenyap, muncullah kehampaan, perasaan tidak berharga, bahkan depresi.
Ketika Jabatan Tak Lagi Melekat
Dalam masyarakat sekarang, pekerjaan seringkali menjadi tolok ukur kesuksesan dan status sosial. Seseorang dinilai dari apa yang ia kerjakan.
Ketika seseorang pensiun, ia tak lagi memiliki gelar pekerjaan yang melekat padanya.
Hal ini dapat mempengaruhi cara ia berinteraksi dengan orang lain dan bagaimana orang lain memandangnya, yang pada akhirnya berdampak pada psikologi individu tersebut.
Peruibahan ini bisa sangat sulit diterima, terutama bagi mereka yang sangat mengidentifikasi diri dengan pekerjaannya secara psikologis.
Gejala Psikologis Post Power Syndrome
Merunut dari Alodokter.com, luka batin akibat post power syndrome ini dapat termanifestasikan dalam berbagai gejala, baik secara fisik, emosional, maupun perilaku.
Secara fisik, seseorang mungkin terlihat kurang segar, kurang bersemangat, dan lebih rentang terhadap penyakit ringat seperti flu, sebagai manifestasi tekanan psikologis.
Dari sisi emosional, mereka bisa menjadi lebih mudah tersinggung, lebih suka menyendiri, sering merasa marah atau kecewa jika merasa tidak dihargai, yang menunjukkan adanya gangguan pada keseimbangan psikologis.
