Logo JawaPos
Author avatar - Image
18 Januari 2025, 21.42 WIB

Bahaya Penyakit Kawasaki Disease: Simak, Penjelasan, Penyebab, dan Dampaknya pada Kesehatan hingga Penanganannya

Ilustrasi seseorang terkena penyakit Kawasaki disease (freepik/rawpixel.com) - Image

Ilustrasi seseorang terkena penyakit Kawasaki disease (freepik/rawpixel.com)

JawaPos.Com- Kawasaki disease adalah kondisi medis berupa peradangan pada pembuluh darah, termasuk arteri, vena, dan kapiler. Kawasaki disease sendiri dalam artian lain adalah penyakit peradangan yang menyebabkan dinding pembuluh darah yang membawa darah ke seluruh tubuh membengkak.

Penyakit kawasaki juga dikenal sebagai mucocutaneous lymph node syndrome, karena penyakit ini juga menyebabkan pembengkakan pada kelenjar getah bening dan selaput lendir di dalam mulut, hidung, mata, dan tenggorokan.

Penyakit ini biasanya menyerang bayi dan anak-anak berusia 6 bulan hingga 5 tahun, tetapi juga bisa terjadi pada orang dewasa. Laki-laki lebih sering mengalami penyakit ini dibandingkan perempuan. Penyakit Kawasaki disease jarang terjadi dan sering bersifat akut, namun dapat memengaruhi arteri koroner dan berkembang menjadi penyakit jantung.

Penyakit Kawasaki disease bukan infeksi dan tidak menular, termasuk dalam jenis vaskulitis. Gejalanya meliputi demam dan ruam kulit kemerahan. Penanganan segera penting untuk mencegah peradangan, dan jika ditangani dini, anak dapat sembuh total dalam 6–8 minggu.

Hingga kini, penyebab Kawasaki disease belum jelas. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan dengan patogen dari angin atau air dan kelainan genetik. Penyakit ini tidak menular dan belum ada virus atau bakteri yang ditemukan sebagai penyebab. Sekitar 40% anak dengan Kawasaki disease terjangkit virus pernapasan.

Dilansir dari laman siloamhospitals.com, berikut beberapa gejala masing-masing penjelasan terkait tahapan penyakit Kawasaki disease:

Gejala penyakit Kawasaki disease mirip dengan gejala penyakit infeksi dan dapat muncul dalam tiga tahap selama sekitar 1,5 bulan.

- Tahap akut (minggu 1-2): Demam tinggi mendadak yang bisa berlangsung 1-4 minggu, bibir dan lidah kering serta kemerahan, ruam merah, mata merah, pembengkakan tangan dan kaki, serta pembengkakan kelenjar getah bening di leher.

- Tahap subakut (minggu 2-4): Demam mereda, diare, muntah, sakit kepala, sakit perut, kulit jari mengelupas, sendi membengkak, kulit dan bagian putih mata menguning, nanah dalam urine, peningkatan trombosit, dan aneurisma di pembuluh darah arteri.

- Tahap penyembuhan (minggu 4-6): Gejala mulai mereda tetapi anak masih lemas. Tahap ini bisa berlangsung hingga 3 bulan dan berisiko komplikasi seperti gangguan pembuluh darah dan jantung.

Penyakit Kawasaki disease harus diobati sesegera mungkin, terutama saat anak masih mengalami demam. Pengobatan bertujuan untuk mencegah kerusakan pada jantung, serta meredakan peradangan dan demam.

Dilansir dari laman alodokter.com berikut beberapa metode pengobatannya meliputi:

  1. Suntik gamma globulin (IVIG)

Suntik gamma globulin (IVIG) adalah obat berisi antibodi untuk mengurangi risiko gangguan jantung. Pemberian dapat diulang jika keluhan anak tidak mereda dalam 36 jam.

  1. Pemberian aspirin

Aspirin digunakan untuk meredakan demam, peradangan, dan rasa sakit. Anak di bawah 16 tahun umumnya tidak boleh mengkonsumsinya, tetapi untuk penyakit Kawasaki, ini pengecualian. Penggunaan aspirin harus di bawah pengawasan dokter dan dihentikan bila anak terkena flu atau cacar air.

  1. Pemberian kortikosteroid

Kortikosteroid diberikan untuk anak yang tidak merespons IVIG atau berisiko tinggi gangguan jantung. Setelah pengobatan, kondisi jantung harus dipantau. Jika tidak ada kelainan, aspirin dapat dihentikan.***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore