Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Maret 2026, 05.18 WIB

Jika Anda Akhirnya Ingin Berhenti Menyenangkan Orang Lain Setelah Usia 55, Ucapkan Selamat Tinggal pada 8 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang berhenti menyenangkan orang lain. (Freepik/freepik) - Image

seseorang yang berhenti menyenangkan orang lain. (Freepik/freepik)

JawaPos.com - Memasuki usia 55 tahun sering menjadi titik refleksi penting dalam hidup. Banyak orang mulai menyadari bahwa sebagian besar hidup mereka telah dihabiskan untuk memenuhi harapan orang lain—keluarga, teman, rekan kerja, bahkan masyarakat.

Menurut psikologi perkembangan, fase ini sering berkaitan dengan kebutuhan untuk menemukan kembali makna hidup dan menjalani kehidupan yang lebih autentik. Pada titik ini, banyak orang merasa lelah terus-menerus berusaha menyenangkan orang lain, terutama jika hal itu membuat mereka mengabaikan kebutuhan diri sendiri.

Berhenti menjadi "people pleaser" bukan berarti menjadi egois atau tidak peduli pada orang lain. Justru sebaliknya, ini berarti Anda mulai hidup dengan batasan yang sehat, menghargai diri sendiri, dan menjalani hidup dengan lebih jujur.

Dilansir dari Expert Editor, jika Anda ingin mulai menjalani fase hidup yang lebih bebas dan bermakna setelah usia 55 tahun, psikologi menyarankan untuk meninggalkan delapan kebiasaan berikut.

1. Mengatakan “ya” ketika sebenarnya ingin mengatakan “tidak”

Salah satu ciri paling umum dari orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain adalah kesulitan mengatakan tidak.

Banyak orang terbiasa mengiyakan permintaan orang lain karena takut dianggap tidak baik, tidak peduli, atau egois. Namun kebiasaan ini sering membuat seseorang kelelahan secara emosional.

Psikologi menyebut kemampuan mengatakan tidak sebagai bagian dari assertiveness atau sikap asertif. Orang yang asertif mampu menghormati kebutuhan orang lain tanpa mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri.

Setelah usia 55, belajar mengatakan tidak bisa menjadi salah satu bentuk kebebasan terbesar dalam hidup.

2. Terlalu khawatir tentang apa yang orang lain pikirkan

Ketakutan terhadap penilaian orang lain sering menjadi alasan utama seseorang terus berusaha menyenangkan semua orang.

Padahal kenyataannya, tidak mungkin membuat semua orang puas.

Psikologi sosial menunjukkan bahwa manusia sering melebih-lebihkan seberapa besar orang lain memperhatikan kita. Fenomena ini dikenal sebagai spotlight effect.

Artinya, orang sebenarnya jauh lebih sibuk memikirkan hidup mereka sendiri daripada menghakimi kita.

Menyadari hal ini bisa sangat membebaskan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore