
Pengguna sepeda motor melintasi jalur yang di lewati truk yang menyebabkan kemacetan di Parung Panjang, Bogor, Jawa Barat. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Parung Panjang selama bertahun-tahun, hari-harinya selalu dipenuhi dengan truk-truk tambang. Akibat muatan sangat berat membebani jalan mencapai puluhan ton, jalan utama di wilayah ini nyaris tidak pernah bagus. Baru diperbaiki setiap 5 tahun sekali, tidak lama kemudian jadi rusak.
Bukan hanya jalanan yang rusak akibat ribuan truk tambang melaju setiap harinya. Kecelakaan menewaskan nyawa tak berdosa, mengakibatkan lumpuh permanen, atau luka ringan kerap terjadi di Parung Panjang. Belum lagi banyak orang mengidap penyakit ispa akibat polusi udara mengganas.
Namun dalam beberapa bulan belakangan, terdapat perbedaan kontras jalan utama Parung Panjang. 'Transformer' tak lagi memenuhi jalanan di wilayah yang berbatasan dengan provinsi Banten itu.
Bukan hanya karena jalan utama di Parung Panjang sedang diperbaiki, namun karena ada perlawanan yang masif dari warga Parung Panjang dan sekitarnya.
Pelawanan terhadap truk tambang di tahun 2025 ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena yang ikut melawan truk tambang bukan hanya warga Parung Panjang, namun juga sejumlah warga dari Legok, Tangerang.
Dedi Mulyadi bertanya ke salah satu warga asal Jayabaya, Parung Panjang, terkait pertanggung jawaban perusahaan tambang usai dirinya mengalami cacat permanen akibat kecelakaan. (Youtube)
Pada September 2025 lalu, viral video memperlihatkan sejumlah warga Tangerang menggeruduk sejumlah petugas Dishub Kabupaten Bogor yang kedapatan beristirahat.
Mereka marah besar karena karena sejumlah petugas dianggap beristirahat tidak bekeja membiarkan truk-truk tambang di depan mata melintas di luar jam operasionanl sebagaimana diatur dalam Perbup No. 56 Tahun 2023, yang menetapkan jam operasional truk tambang mulai pukul 22.00 WIB hingga 05.00 WIB.
Kemarahana sejumlah Legok ini kemudian disambut oleh banyak warga Parung Panjang melayangkan penolakan sekaligus mengkritisi pembangkangan yang dilakukan truk-truk tambang pada aturan yang tertera dalam Perbup.
Bukan hanya mengawasi truk-truk tambang yang beroperasi di luar jam yang telah ditetapkan, mereka juga kompak melakukan gerilya di media sosial memviralkan masalah ini.
Alhasil, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM akhirnya mengambil alih kendali atas kekacauan yang terjadi di Parung Panjang akibat sejumlah blunder yang muncul.KDM membuat keputusan tegas truk tambang tidak boleh beroperasi terhitung sejak 25 September 2025 untuk wilayah Parung Panjang, Rumpin, dan Cigudeg.
KDM memutuskan menghentikan sementara truk-truk tambang di Parung Panjang dan sekitarnya dengan sejumlah alasan. Salah satunya, ingin memastikan jalan utama yang sedang diperbaiki tidak dilewati oleh truk-truk tambang mengingat jalan yang diperbaiki belum kering sepenuhnya.
Area tambang batu dan pasir yang berhenti beroperasi di wilayah Sudamanik, Gorowong, Parung Panjang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (21/10/2025). (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Selain itu, KDM juga menghentikan aktivitas pertambangan di tiga kecamatan itu untuk melakukan evaluasi guna memastikan perusahaan-perusahaan tambang mematuhi ketentuan yang berlaku. Mulai dari reklamasi, pajak, hingga pemenuhan hak-hak karyawan.
Sampai sekarang, jalan utama Parung Panjang belum disentuh oleh transformer pertambangan. Hal ini membuat banyak warga senang karena mereka tidak lagi bermacet-macetan di jalan seperti yang terjadi selama puluhan tahun.
