
Pendiri rumah mode Italia, Giorgio Armani, dalam sebuah peragaan busana di Milan (Dok. Forbes)
JawaPos.com - Dunia mode global tengah menyoroti wasiat Giorgio Armani yang membuka peluang akuisisi oleh raksasa industri. Selama lebih dari lima dekade, perancang asal Italia ini membangun salah satu rumah mode independen paling berpengaruh, dengan menolak tawaran investor maupun akuisisi besar.
Kini, dengan nilai merek mencapai 12,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 201,6 triliun (kurs Rp 16.640 per dolar AS), masa depan imperium Armani memasuki babak baru.
Namun, wasiat Armani mengejutkan publik. Dia memerintahkan penjualan 15 persen saham dalam 18 bulan, idealnya kepada LVMH, L'Oréal, atau EssilorLuxottica, disusul hingga 54,9 persen dalam lima tahun ke depan. Jika tidak ada pembeli strategis, opsi penawaran umum perdana (IPO) menjadi jalan terakhir.
Baca Juga: Rusia Tertinggal di Tengah Ledakan AI Global, Rezim Putin Dinilai Membungkam Talenta Teknologi
Dilansir dari Forbes, Selasa (30/9/2025), Kurt Bielawski, mantan pembeli Giorgio Armani untuk Neiman Marcus menegaskan, "Dia jelas seorang desainer sekaligus pebisnis. Saya yakin dia memikirkan keberlanjutan tentang siapa yang akan menjaga mereknya."
Struktur baru membagi saham dan hak suara kepada keluarga serta yayasan. Leo Dell'Orco, mitra lama Armani sekaligus kepala busana pria, memegang 30 persen saham dengan 40 persen hak suara. Keponakan Armani, Silvana dan Andrea Camerana, masing-masing memperoleh 15 persen. Yayasan Giorgio Armani menguasai 10 persen saham dan 30 persen hak suara, dengan fungsi menjaga nilai estetika merek.
Namun, tanpa sang pendiri, tantangan besar menanti. Robin Derrick, mantan direktur kreatif British Vogue menyatakan, "Begitu Giorgio Armani tiada, secara otomatis dia tidak lagi terlibat dalam setiap rancangan dan koleksi yang dipasarkan. Saya sebenarnya berpikir bahwa tidak ada Giorgio Armani tanpa Giorgio Armani."
Meski demikian, jurnalis mode Dana Thomas melihat peluang keberlanjutan. “Saya kira merek Armani lebih besar daripada penciptanya dan kemungkinan tetap bertahan sebagai pemain utama sektor mode dan barang mewah. Chanel dan Dior mampu bertahan tanpa pendiri mereka, demikian pula Armani," ujarnya.
Dalam spekulasi mengenai siapa yang berpotensi mengambil alih, nama Bernard Arnault, sosok di balik LVMH yang dijuluki "Serigala Kasmir," muncul sebagai kandidat paling dominan. Jejak sukses akuisisi Bulgari dan Tiffany memperkuat peluang tersebut.
Bielawski menilai pilihan ini rasional. "LVMH memiliki kapasitas untuk mengelola merek seperti Armani. Mereka bisa membawa lini aksesori yang selama ini belum maksimal menjadi jauh lebih besar."
Namun, dua kandidat lain, L'Oréal dan EssilorLuxottica, juga punya rekam jejak panjang. L'Oréal bermitra hampir empat dekade di sektor kecantikan, sementara EssilorLuxottica menjadikan kacamata Armani sebagai ikon sejak 1988. Keduanya menawarkan kesinambungan dengan identitas asli merek Italia.
Sejalan dengan itu, Tara Whitman, editor Britannia Daily, menekankan arti penting transisi ini. "Kepergian Armani menandai akhir sebuah era. Pertanyaan mendesak kini adalah bagaimana rumah mode independen yang tersisa akan bertahan tanpa ikon seperti dirinya."
Dengan demikian, wasiat Giorgio Armani sekaligus membuka babak baru industri mode global. Apakah Bernard Arnault dan LVMH akan menambah Armani ke dalam portofolio raksasa barang mewah Prancis, ataukah warisan Italia ini tetap dijaga oleh mitra lamanya? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan arah masa depan salah satu merek paling berpengaruh dalam sejarah mode.
