
Ilustrasi pesawat jet pribadi yang menghasilkan emisi karbon yang besar. (The Guardian)
JawaPos.com — Sebuah analisis dari Oxfam mengungkapkan bahwa 1 persen individu terkaya di dunia telah menghabiskan jatah emisi karbon global mereka untuk tahun 2025 hanya dalam waktu 10 hari pertama tahun ini. Data ini menggambarkan kesenjangan yang mencolok dalam kontribusi terhadap perubahan iklim antara kelompok kaya dan miskin.
Kelompok terkaya di dunia ini rata-rata menghasilkan 2,1 ton emisi karbon dioksida (CO₂) hanya dalam waktu 10 hari. Sebagai perbandingan, jumlah tersebut setara dengan emisi yang dihasilkan oleh seseorang dari 50 persen populasi termiskin dalam tiga tahun.
“Masa depan planet kita berada di ujung tanduk. Namun, orang-orang super kaya dibiarkan terus menghambur-hamburkan peluang umat manusia melalui gaya hidup mewah dan investasi yang mencemari,” ujar Chiara Liguori, penasihat kebijakan keadilan iklim senior di Oxfam GB, seperti dilansir dari The Guardian pada Senin (13/1/2025).
Karbon dioksida (CO₂) dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, gas, dan minyak yang digunakan dalam berbagai sektor, termasuk pembangkit listrik, industri, transportasi, dan pemanasan. Ketika gas ini terakumulasi di atmosfer, ia menciptakan efek rumah kaca, yaitu proses di mana panas matahari terperangkap dan tidak dapat dipantulkan kembali ke angkasa. Dampaknya, perubahan iklim menjadi semakin sulit dikendalikan dan mengancam stabilitas ekosistem yang telah terjaga selama 10.000 tahun terakhir.
Pemerintah global telah berjanji untuk membatasi pemanasan bumi hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa target tersebut semakin jauh dari jangkauan, terutama karena emisi yang tinggi dari kelompok terkaya. Dampaknya sudah terasa dalam bentuk bencana seperti kekeringan, badai, hingga gelombang panas yang memicu krisis pangan, naiknya permukaan laut, dan kerugian ekologi lainnya.
Oxfam mencatat bahwa kelompok 1 persen terkaya—sekitar 77 juta orang di seluruh dunia, termasuk mereka yang berpenghasilan lebih dari USD 140.000 per tahun (sekitar Rp 2,2 miliar)—bertanggung jawab atas emisi karbon tahunan yang dua kali lipat lebih besar daripada gabungan emisi 50 persen populasi termiskin. Ironisnya, kelompok termiskin yang berada di wilayah tropis menjadi pihak yang paling menderita akibat dampak perubahan iklim, meskipun mereka memiliki kontribusi yang sangat kecil terhadap krisis ini.
Penelitian lain dari 2023 menunjukkan bahwa emisi dari kelompok kaya ini bahkan cukup untuk menyebabkan 1,3 juta kematian akibat panas ekstrem dalam beberapa dekade mendatang. Contoh nyata terlihat dari dua jet pribadi milik Jeff Bezos, pendiri Amazon, yang dalam setahun menghasilkan emisi karbon setara dengan yang dihasilkan seorang karyawan Amazon di AS selama 207 tahun. Sementara itu, tiga kapal pesiar keluarga Walton, pewaris Walmart, menghasilkan jejak karbon sebesar 18.000 ton dalam setahun, setara dengan emisi 1.714 pekerja Walmart selama satu tahun kerja penuh.
Menurut Oxfam, untuk mencapai target pembatasan pemanasan global hingga 1,5°C, kelompok 1 persen terkaya harus mengurangi emisi mereka sebesar 97 persen dari tingkat emisi tahun 2015 pada tahun 2030. Namun, prediksi menunjukkan bahwa pengurangan yang akan mereka lakukan hanya sebesar 5 persen.
Oxfam mendesak pemerintah untuk mengambil tindakan tegas. “Pemerintah perlu berhenti memanjakan para pencemar terkaya dan sebaliknya membuat mereka membayar bagian yang adil atas kerusakan yang mereka timbulkan pada planet kita,” tegas Liguori. Di Inggris, Oxfam mendorong pemerintah untuk menaikkan pajak pada barang mewah yang mencemari lingkungan, seperti jet pribadi dan kapal pesiar. “Peningkatan pajak pada barang-barang mewah ini adalah langkah awal yang jelas bagi pemerintah,” tambahnya.
Perubahan iklim yang semakin parah menuntut tindakan tegas, terutama dari kelompok terkaya yang menyumbang sebagian besar emisi karbon. Dengan upaya global yang lebih terkoordinasi dan kebijakan yang lebih adil, mungkin masih ada harapan untuk memitigasi bencana iklim yang semakin mendekat. Namun, itu semua tergantung pada komitmen untuk menegakkan keadilan iklim demi masa depan yang lebih baik.
***
